Yadda Yadda Yadda…

July 9th, 2005 by pitopoenya

Lagi-lagi. Masalah berkomunikasi. Setelah kecewa karena penolakan seseorang untuk ditengok, dilanjutkan tidur maksa selama 4 jam, malemnya karena ga tau mau ngapain ujung-ujungnya nongkrong lagi di depan monitor. Tadinya sih niat banget pengen baca e-book yang kececer dan belum sempat disetubuhi itu. Capek mikir, akhirnya ketemu lagi sama orang-orang dari komunitas baru. Yang gwa pikir sama gilanya sama gwa. Yang gwa pikir maklum-maklum aja sama keadaan gwa dan (yang gwa pikir) sama ama keadaan mereka.

But guess what? Gwa dapet teguran keras. Dengan cara lembut. Tentang cara gwa ngomong, posting, de el el. Emang sih, masalah penghidupan gwa ga sekeren mereka. Tapi gwa yakin kalo kita duduk bareng dan bicara tentang hidup, gwa ga kalah ama mereka.

Tapi dengan segala kerendahan hati (meski diselingi sungutan dan rutukan offline walau sedikit), gwa mencoba ngalah. Gwa orang baru, man. Harus mempelajari medan. Seperti halnya Hermione yang masih aja langganan Daily Prophet ketika dua anggota trio Hogwarts lain yang terkenal itu mencibir. I pay respect to all breathing things. Especially the ones with bad breath. I don’t wanna get contaminated and die. Perjuangan masih panjang. That’s all.

[You're all just don't know me. Too bad... it's your lost.]

Jogja, Never-Ending Macem-macem e

July 1st, 2005 by pitopoenya

Tiap tahun di Benteng Vredeburg ada Festival Kesenian Yogyakarta. Kebetulan sekarang PPSJ buka stand disana. Misinya sih bukan cuma jualan barang kerajinan, tapi lebih ke penyebaran informasi sekalian kampanye penyelamatan satwa dilindungi. Karena gwa dulu pernah jadi salah satu volunteer nyiapin makanan satwa akhirnya dengan amat senang hati gwa ikut jagain stand yang emang kalo siang suka gak ada yang nunggu (=

Sebenernya gwa prihatin sama keadaan. Dulu waktu jadi sukarelawan dan sering nemenin mas-mas animal keeper, PPSJ lagi mbangun beberapa kandang baru. Pekerjanya banyak, dan rata-rata penduduk sekitar. Demi melihat ember-ember berisi buah-buahan segar yang kami bawa, komentar mereka adalah, "Nggo kewan ae apik-apik. Mbok sing menungso sing dipakani…"
Ah… manusia. Kenapa sih harus iri sama mahluk yang hampir punah yang diakibatkan keserakahan kalian memburu dan menjual mereka hanya demi uang yang gak seberapa? Padahal dengan menyelamatkan mereka kita menyelamatkan hektar demi hektar hutan hujan, yang artinya menyelamatkan dunia, yang artinya juga menyelamatkan kalian dan saya.

Lebih miris lagi waktu gwa mbagiin brosur berisi himbauan untuk membiarkan satwa liar di habitatnya. Beberapa hari itu anak sekolah lagi musim darmawisata ke Jogja. Gerombolan ABG yang masih kinyis-kinyis lewat di depan stand, barengan dengan para guru yang pada dandan abis layaknya wisman. Mumpung banyak generasi muda nih, pikir gwa. Ehhh… begitu gwa–yang dengan semangat pantang menyerah–menyodorkan kertas kecoklatan bergambar muka sedih seekor orangutan yang dikurung, mereka malah cuek. Dilirik pun tidak. Gurunya juga! Dan gwa cuma bengong liatnya. Aduh, dek… kalo kalian begini terus kapan pinternya? Dikasih pengetahuan koq nolak sih?

Udah lah. Gwa gak pesimis koq. In a way, pasti ada yang bisa dibanggakan dari mereka.

Karena senasib se-rak-payu-an, gwa kenal sama Mas Joko yang jagain Wawin Craft. Si ganteng lembut rodok ndeso yang kalo dateng hampir selalu berganti-ganti cewek. Sama Mas Dani yang bikin pernik dari kulit (gwa curiga, jangan-jangan dia kumpulin itu kulit dari tukang sunat!). Mbak Puji yang gak boleh nyobain rokok gwa karena dipelototin pacarnya yang pelukis. Dan Ibu Malioboro–suplier bahan tokai–yang penyayang sama semua orang. Stand Kedathon, provider spa material, malah lebih gila. Gwa punya kakak pertama (Maz Andi) dan kakak kedua (Maz Udin), mami, kakek dan ayah. Yang terakhir adalah patung orangutan segede anak gajah yang dipajang buat menarik pengunjung. Ah … lupa! Ada Paman Blek si teacher assistant di Pelangi Indonesia yang anaknya jago banget cerita. *insert song "We Are Family" here*

Gwa jaga bareng si cantik-manis-lugu-pintar-tapi-galak. Dalam seminggu hanya satu hari kita pernah ngumpulin total penjualan Rp 188,500,00 since 11.00-21.00, sementara banyak stand sebelah-menyebelah kami tidak berhasil menjual satupun. Edun! Tapi herannya kita tetap cerah-ceria. Banyak ketawa, banyak ledekan dan banyak kosa kata baru dalam bahasa jawa yang gwa dapet hampir tiap hari. Kebanyakan adalah bahasa saru.

Ah… melelahkan tapi menyenangkan banget. Moga-moga happy-nya bisa ampe tanggal 7 nanti…

Untuk Lilis Tersayang…

June 25th, 2005 by pitopoenya

Seseorang bertanya tentang harakiri dan norma. "Apakah harakiri itu dosa?" tanyanya. Kenapa ya dia pakek sebutan harakiri? Apakah untuk menuliskan kata "bunuh diri" itu terlalu kasar atau bagaimana? Gwa juga ga tau, meskipun dua sebutan itu hanya beda bahasa tapi artinya sama. Dan menurut gwa dua variabel yang amat sangat berbeda.

Menarik. Kalo di negeri Sakura sana harakiri itu tanda mulia, pemberani dan setia. Mulia karena lebih baik mati daripada hidup menanggung malu. Pemberani karena demi harga diri si pelaku rela mengorbankan nyawanya. Setia karena itu adalah salah satu wujud loyalitas pada shogun, atasannya.

Kemudian disejajarkan dengan dosa yang notabene adalah konsekuensi dari perbuatan yang dilarang Tuhan–yang menurut perkiraan gwa–disembah agama tertentu (dalam hal ini islam). Apa gak tulalit itu? Padahal orang Jepang penyembah dewa dan matahari. Untuk mereka para pelakunya, bagian mana sih yang jadi dosa? Bukannya malah membanggakan dikenang sebagai orang yang punya 3 karakteristik keren kayak gitu?    

Tapi ah…. sudahlah.™

[Makasih buad Maz Fahmi, Gajah Senior, yang udah mbikinin tm kecil-kecil dan minjemin "ah... sudahlah"nya...]

Red, Red Rose in the Very High Sky

June 23rd, 2005 by pitopoenya

Red_rosePagi buta gwa dapet imel dari Bude yang ada di negara kumpeni sana. Isinya gambar dari situs NASA, Astronomy Picture of the Day. Mawar cantik ini diambil oleh  Hubble Space Telescope tanggal 31 Oktober 1999: pencitraan supernova sebuah bintang sekarat yang jaraknya 3000 tahun cahaya. Meledak di ambang kepunahannya.

Teriring Surah Ar-Rahman ayat 37-38:

"Maka apabila langit terbelah dan menjadi mawar merah seperti kilapan (minyak). Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

(And when the heaven spiltteth assunder and becometh rosy like red hide. Which is it, of the favours of your Lord, that ye deny?)

Dan Surah Al Fushshilat ayat 53:


"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu (tidak cukup) bagi kamu bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?"

"We will show Our signs in the universe and in their ownselves, until it becomes manifest to them that this (The Quran) is the truth. Is it not sufficient in regard to your Lord that He is the witness over all things?"

Speechless… Ampun… ))=

It’s all about choosing

June 23rd, 2005 by pitopoenya

If you’re only thinking about death, then it will screwed up your life.
But if you know how you’re gonna die, it will help you to survive.
(Edward Bloom, saying to a Gypsi lady in Tim Burton’s Big Fish)

Jadi inget film animasi yang judulnya Lain. Salah satu karakternya bilang, "Things remembered, they are exist. Things forgotten, they are not exist". Atau kira-kira seperti itu. Gwa lupa. Filmnya dah lama banget gwa tonton (Alasan!!!).

Atau 25th Hour yang dibesut Spike Lee. Waktu si Monty mau dianterin babenya ke penjara.  Pilihannya: penjara beneran, bunuh diri, atau kabur ke kota tanpanama tempat dia bisa menghilang.

Adegannya bikin gwa ngerasa Monty ambil opsi ke-tiga, jadi bartender tanpa perlu ID apapun, tinggal bertahun-tahun di kota kecil itu, beranak-pinak sampe jadi kakek-kakek dan bercucu. Ternyata nggak. Itu hanya narasi bapaknya. Satu quotation yang mengakhiri adegan itu:
This life is so close to never happening.

Hanya pilihan dan keputusan yang kita buat–besar atau kecil–yang bikin satu peristiwa ada atau tidak. Mungkin itu yang terjadi dengan takdir, atau fate, atau nasib, atau apapunlah.

Gwa ga pinter mengkotak-kotakkan hal-hal kayak gitu. Itu juga pilihan kan?

Wanting…

June 23rd, 2005 by pitopoenya

Kemarin gwa minta pendapat seorang sesepuh untuk mengomentari sampah otak gwa. Untung beliau balesnya pake e-mail. Kalo dia komen disini, pasti gwa malu banget. Katanya, kalo dia ga kenal gwa personally saat skimming disini maka mental image-nya adalah cewek dengan jins robek-robek, yang pada kenyataannya gwa adalah perempuan gendut yang hampir sempurna (gendutnya) yang berpikir a la Patrick Star di film Spongebob Squarepants dan ga jauh beda umur sama Putri, keponakannya yang masih TK. Gwa cuma senyum. Miris. Sadis!

Lalu dengan petunjuk Maz Bek gwa mulai mengunjungi tempat sampah lain di dunia maya ini. Tempat favorit gwa adalah rumahnya Om Kere. Komentar gwa cuma satu: Superanjing! Itu istilah gwa memberi penghargaan tertinggi untuk sesuatu yang amat-sangat-bagus-serta-keren. Soalnya gwa sering bilang "Anjing… keren!" atau "Anjing… cakep!" kalo liat hal-hal yang melebihi sewajarnya. In a positive way.

Terus gwa juga suka mampir ke komplek perumahan yang kepala desanya adalah Om Enda. Duh… anjing-anjingnya pun lepas lagi. Berlompatan kesana-sini tanpa bisa di-rem.

Pengen bisa menulis indah…

Iseng ahhh…

June 18th, 2005 by pitopoenya

Gwa pernah dinobatkan sebagai anak iseng sepanjang masa. Walopun yang menobatkan cuma Ibu, dan yang jadi competitor cuman Babab dan adek gwa. Menurut beliau, masih di perut aja udah iseng. Lha wong hari Minggu baru mau di-nujuhbulan-in, hari Jumat gwa lahir dengan sukses walau dengan berat badan kurang dari 2 kg. Waktu beberapa hari masuk SD, pulang sekolah gwa iseng nongkrong di jembatan yang jauh banget dari rumah dan sama sekali asing, ama temen sekelas yang gak begitu kenal. Hasilnya? Kepanikan seisi rumah dan lelehan airmata Bunda waktu liat gwa pulang beberapa jam kemudian—walaupun dengan raut wajah gemas sambil pegang gagang kemoceng.

Sampe gwa gede pun gwa sering iseng. Waktu pertama kali ke Jokja gwa kesepian banget. Tanpa temen satu sekolah, harus adaptasi lagi dengan lingkungan dan ‘peradaban’ baru, orang baru, temen baru, dll. Akhirnya, pulang kampus gwa sering nyetop bis apapun yang lewat dan ikut sampe terminal. Kadang bolak-balik, malah! Sampe keneknya bingung dan ketawa begitu denger alasan gwa (“Iseng pak, pengen jalan-jalan”).

Masih dalam rangka iseng. Karena miris dengan surat pembaca yang dimuat di Balairung tentang  komunitas gay yang jadi minoritas dan dianggap bawa penyakit, gwa bales personal ke alamat yang tertera di bawahnya. Abis itu gwa tinggal mudik ((= Ternyata, si penulis surat itu tinggal gak jauh dari kos dan langsung dateng ke tempat gwa setelah nerima surat iseng itu. Karena gwa ga ada, dia ninggalin nomer telepon dan nitip pesen supaya kontak dia kalo gwa dah pulang. Ya udah. Jadilah selama setahun gwa nyemplung dalam dunia mereka dan keluar karena gak tahan mbandingin gwa yang perempuan ini ternyata lebih maskulin daripada mereka yang laki-laki. Apalagi mereka ternyata suka ‘menjual’ keadaan ke LSM dan yayasan supaya bisa dapet duit. Ugh! Ini sih beneran iseng bin oportunis namanya!

Waktu liat iklan di SCTV sebulan lalu hasrat iseng gwa keluar. Disitu Ari Wibowo cari pembantu dengan gaya reality show yang lagi booming. Syaratnya hanya harus berusia 18 tahun ke atas, bisa masak dan urus rumah dengan gaji 10 juta/bulan. Hmmm… tawaran menarik! Gwa kan udah gak ngapa-ngapain di sini. Kos juga udah abis, ga bisa perpanjang karena mau di renovasi, kerjaan ga tetap, pemasukan kurang, weh! Apalagi setelah gwa baca bukunya Fay Weldon. Lagian gwa juga punya misi sendiri: ngasih pembelajaran langsung tentang cogito ergo sum meskipun dia ngetop luar biasa (sok mulia! Emang lu sendiri udah bisa?!) Setelah ngobrol ama temen-temen, mereka malah setuju dan dukung banget keisengan gwa ini. Bukan tanpa alasan mereka dukung gwa. Soal masak sih udah kebukti sama orang rumah dan beberapa temen deket walopun selama kuliah gwa lebih seneng makan di luar. Beres-beres rumah? Bisa la… walo rada kacaw. Yang penting kan basic requirement udah PD! Xixixi… 

Tapi terus gwa mikir (jiyeh…), kalo gwa ikut audisinya berarti gwa bakal nambahin satu kompetitor lagi untuk orang-orang yang emang berprofesi sebagai pramuwisma dan mereka yang amat sangat memerlukan pekerjaan. Lagian para oportunis yang modelnya sama kayak gwa pasti udah banyak. Dan dengan pendidikan yang hanya segelintir orang Indonesia could afford, probabilitas gwa untuk tembus pasti lebih gede karena gwa lebih milih profesi jadi pembantu daripada kerja yang lebih ‘bersih’. Itu kan laku dijual jadi bahan cerita! But most of all, sebenernya gwa ga suka dengan acara tivi yang exploit abis tentang harapan, kepapaan atau kekurangan orang miskin. Macem duit kaget, lunas, penghuni terakhir, joe millionaire atau apapunlah, meskipun yang terakhir itu jadi kaya karena sponsor. Jualan cara lain yang dibikin sama kapitalis-kapitalis reseh: jual mimpi, jual harapan, jual ngetop. Bah! Modern enslavement! Huw! 

Mundurnya gwa untuk audisi bikin temen se-kos pada kecewa. Temen brainstorming gwa yang pertamanya rada ga setuju tapi akhirnya turut dukung karena iming-iming 10 juta itu bahkan udah ngasih pemakluman (“Walaupun benci tapi kalo dapet 10 juta per bulan kan gak papa. If you can’t beat them, join them aja!”) dan dia kecewa karena deep down inside dia juga suka ama tampangnya Ari Wibowo dan pengen maen ke rumahnya kalo gwa  jadi kerja disana. Haha! Dengan santainya, gwa bilang kalo gwa mundur karena males difoto. Dan lagi gwa udah curiga karena audisinya diadain di Kafe, bukan di tempat gede macem JEC ato semacemnya. Kalo emang bener mau cari pembantu, kenapa harus di kafe? Apa itu salah satu ‘seleksi alam’ untuk bikin mahluk-mahluk yang (rada) anti kafe kayak gwa untuk mundur? Ato emang untuk bikin para pramuwisma beneran itu minder dengan tempatnya dan (akhirnya) mundur (juga)? Ntah ya.

Yang pasti, setelah gwa ga jadi ikut audisi ada berita kalo acara itu diboikot sama LBH Apik dan LSM yang concern dengan nasib para pembantu dan kemiskinan yang ‘dijual’.

Bagus lah. Ternyata emang mendingan maksimalisasi ketrampilan dan kebisaan disini, saat ini, daripada mimpi jadi pembantu artis dan tinggal di Jakarta, dimana Khaerunisa dan penggede-penggede negara ini hidup berdampingan…

SINAU!!!

June 14th, 2005 by pitopoenya

Susahnya belajar sesuatu yang baru… Apalagi belajar sesuatu yang udah di-prejudice sebelumnya. Ironis. Saat gwa benci ama sesuatu, sesuatu itu malah jadi sesuatu yang harus gwa pelajari. Binun? Sama!

Lewat sms, seseorang mendorong gwa untuk bisa, untuk belajar. "Kalo ga bisa dan ga mau, mau jadi apa kamu?!" Tajem. Biasa. Udah kebal.

Hasilnya, gwa mengakrabi lagi hobi lama: jalan-jalan dan numpang baca di toko buku besar. Dengan rintangan pertama yaitu sendal putus di tengah jalan. Untung aja temen gwa kalo pake jilbab suka belibet dan perlu banyak jarum, jadi lumayan terantisipasi deh (=

Lagi-lagi gwa ga suka sama apa yang gwa temuin disana. Sesuatu yang emang dari awal udah gwa sebelin itu harus gwa pelajari, dan konsepnya sama sekali ga kena ke gwa yang sering di cap anti-tren dan anti-kemapanan. Arghhh!!!

Sinau hayo sinau… Demi masa depan yang lebih cerah! Bwek!

[yak opo to, nduk?!]   

Lost In (Almost) Paradise

June 14th, 2005 by pitopoenya

3 hari yang indah, di kota yang dingin, dikelilingi orang-orang baik dan makanan enak, serta kekhawatiran yang menguap seperti kabut yang malu di hadapan mentari. Aih!

Pagi itu gwa sampe di stasiun Bandung dengan ransel penuh yang salah packing, pegel-pegel dan laper. Setelah ‘laporan pagi’ yang agak nyebelin ("Maaf, mas. Jamaah putra di sebelah sana," kata mbak-mbak jilbab lebar di belakang gwa yang nunjuk ke hijab. Huh!), gwa nunggu dengan (sok) manis di antara jejeran kursi pas di depan pintu masuk sambil baca Harry Potter. Gwa bener-bener gak tau gimana bentuk dan rupanya orang yang bakal jemput gwa di Kota Kembang ini. Hanya karena feeling so good dan kesuntukan di kota asal, gwa memutuskan untuk ‘travelling gila’ dengan hanya berbekal sisa duit Rp. 25,000 di saku celana dan ponsel terisi penuh pulsa, atas undangannya. Dan feeling gwa emang gak bohong. There he was, menjulang dengan muka Batak totok dan rada galak yang ternyata berhati baik, menunggu di pintu putar sambil matanya celingukan mencari-cari dan mulutnya membentuk barisan kata-kata, "Dimana kau, dek?"

After some talking that had been done over two cups of black Torajan coffee in the nearest cafe, we went straight to his place: kos-kosan di lantai dua dengan 5 kamar imut yang berisiknya kek pasar yang letaknya pas di depan gang, dari mulai Winamp yang dipasang house music super keras, teriakan-teriakan ("Oi! Celana dalem aing kamana?!"), dan pandangan ingin tahu ketika kami masuk gerbang. Disini, 3 lelaki dan 2 perempuan saling berbagi 1 kamar mandi dan 1 WC yang sama-sama mungil. Gwa yang terbiasa dengan suasana rumah nyaman dan tenang agak gagap juga disini. Betah-betahnya si abang yang pendiam tinggal di lingkungan kek gini. Apa mungkin opposite attract? Ugh!

Setelah sedikit bersih-bersih dan menerima beberapa tamu yang emang gwa pengen temuin, kita langsung ke tempat salah satu temen yang juga (ehm!!!) mantan pacar, dulu. Demi masa lalu, dia bersedia hunting buku bareng besoknya. Jangan salah sangka! Beliau itu pernah janjiin bakal jadi guide yang baik kalo gwa ke kotanya. Jadi, ga ada itu CLBK (Cerita Lama Berulang Kembali, Cinta Lama Bersemi Kembali, dst)!

To make the long story short, si abang yang staminanya gak kayak kita yang muda-muda ini memutuskan untuk istirahat di kos setelah seharian nemenin gwa jalan (literally! Karena gwa pengen maksimalisasi fungsi kaki). Jadilah gwa jalan berdua mantan!

We’ve begun our relationship as friends, and I assumed that we’ve also end up as friends. No feelings involved. No worried attached. On my side, at least. Unfortunately not from his. Ternyata dia deg-degan dengan ulah yayangnya di ujung Kalimantan sana yang tiba-tiba jadi pendiam setelah ngaku kalo gwa ada sama dia. Bah! Cem mana pon dia bilang ke ceweknya itu?! Untung aja gwa dapet semua buku secondhand yang gwa taksir (Steinbeck, Classic American Short Stories, Robert Ludlum, de el el) dengan harga miring gila-gilaan. Kalo nggak, gak bakalan gwa cerah-ceria ampe Jokja!

Tau-tau udah Jumat. Gwa mesti balik. Berbekal duit banyak di kantong yang ada secara ajaib, dengan gagah gwa melangkah di jalan Terusan Jakarta buat borong bollen Kartika Sari yang bakal jadi upeti temen-temen di kos yang ga brenti-brentinya doain keselamatan gwa. 7 kotak langsung! Gwa ampe cengar-cengir sendiri. Kapan lagi gwa bisa belanja gila kek gini?! Hanya untuk bahan tokay pulak! Huahahuuhauha!!!

Ah, Bandung. Ramahnya mirip kota gwa, dengan awewe geulis dan lebih modis serta cowok-cowok bagus dan bersih ((= Sayang, macetnya gak nahan. Gwa kangen Jokja kalo tiba-tiba stuck di angkot yang diam 10 menit penuh karena ga bisa maju. Saat ada di gerbong 5 KA Mutiara Selatan tujuan Jokja, berbekal bungkusan segede belanjaan orang yang mau buka warung,  gwa jadi pengen kesana lagi. Ketemu abang-abang Batak baik hati yang tanpa ragu mengakui adiknya yang Jawa tulen ini. Xixixi…

The Final Resolution

May 28th, 2005 by pitopoenya

Live another day, climb a little higher
Find another reason to stay…

I saw Kurt Cobain once again. On TV, of course. His innocent, five-days-bearded face and long, blonde hair that never touched any comb came to life once more. And I recalled how he died.   

Sekarang gwa ngetik ini ditemenin sama Another Day dari Dream Theater. Ironic.

Waktu kecil gwa nganggap orang bunuh diri itu bodoh. Mati, gila! Gak bisa maen, gak bisa baca, gak bisa nonton kartun, gak bisa liat hujan, gak bisa puter-puter perumnas naek sepeda, gak ada yang jual bakso, ga bisa makan masakan Ibu, gak bisa becanda ama Babab, de el el. Apalagi harus berteman dengan cacing-cacing dan ditinggal sendirian di lubang gelap tanpa penerangan sama sekali. Meskipun gwa suka maenan cacing, gwa ga suka badan gwa dibebat kain kafan.

Then my best friend, who lived across the street, died of Dengue when I was six. I hate hospital that took her away and never gave her back. Mom said that she went to heaven for good, in God’s hand. Well, I was sure that His hands were already full with people He took before my friend. So why should He take her too? 

I grew up with both ears and eyes open wide. Pagi itu gwa ada disana saat telapak Mbah Uh tersayang mendingin, dan gwa berusaha menggosok sepasang kaki renta itu untuk bikin jadi hangat lagi. Saat usaha gwa sia-sia, hangat itu berusaha gwa kejar dan menahannya disana, di betis dan di lutut, dengan semua doa yang gwa bisa, tapi percuma. Dibantu tuntunan kalimah-kalimah suci dari Pakde dan Babab, Simbah dipanggil Tuhan dengan tenang, meninggalkan lelehan air mata di pipi istri, anak-anak dan salah satu cucunya ini.

Waktu belahan jiwanya tiada, Mbah Uti jadi malas bertahan. Setahun kemudian beliau juga dipanggil Tuhan. Sayangnya, gwa datang terlambat. Waktu gwa udah nyampe, hanya jenazahnya yang terbujur kaku di ruang tamu. Mendadak gwa halusinasi. Gwa masih merasa tubuh itu hanya tidur, nungguin gwa seperti biasa ketika liburan datang. Yang nantinya repot di dapur dan mbikinin ‘Ayam Goreng Sampah’ yang spicy dan berremah as I like it yang ga ada duanya sampe sekarang pun. Gak ada airmata tertumpah, hanya ciuman sayang gwa di kedua pipi dan kening keriput dan dingin.   

Suatu malam setelah Lebaran tiba-tiba gwa dikagetin telepon dari rumah yang ngabarin Om gwa tersayang ‘menghadap’ Dia untuk selamanya. Mati bujang. Beberapa tahun sebelumnya, sepupu Ibu yang baik, tanpa anak dan sering cerita-cerita saat ponakan-ponakannya yang bandel bertandang sambil ngemil kue coklat buatannya itu juga pergi karena serangan jantung. Dua jiwa baik dipanggil tanpa gwa sempat farewell sama mereka.

Lalu gwa denger bocah SD di belahan bumi lain yang terjun dari gedung apartemen tempat tinggalnya karena nilai rapor yang jelek. Seorang kakek memasang tali di lehernya sendiri dan tergantung selama beberapa jam hingga hilang nyawa karena putus asa dengan penyakitnya yang gak kunjung sembuh. Jauh beberapa tahun sebelumnya ada… Kurt Cobain. Dan pendapat gwa berubah total.    

I hate myself, I want to die, katanya. Keterpurukan yang menjadi karena krisis eksistensinya di dunia, dimana dia dipandang sebagai ikon dan komoditi industri musik sementara yang ingin dilakukannya hanya menyuarakan kerisauan hati dan pikiran yang terpendam dalam pribadi pemalu. Dia muak ketika harapannya gak jadi kenyataan. Dia muak dengan semuanya. Dan pemberontak itu pun tetap jadi pemberontak sampai di ujung hidup. Well, at least that’s what I thought sebelum adanya teori pembunuhan Mas Kurt itu.

If struggling is not enough, maybe death is your ultimate relief… disengaja atau tidak.