Untuk Lilis Tersayang…
Seseorang bertanya tentang harakiri dan norma. "Apakah harakiri itu dosa?" tanyanya. Kenapa ya dia pakek sebutan harakiri? Apakah untuk menuliskan kata "bunuh diri" itu terlalu kasar atau bagaimana? Gwa juga ga tau, meskipun dua sebutan itu hanya beda bahasa tapi artinya sama. Dan menurut gwa dua variabel yang amat sangat berbeda.
Menarik. Kalo di negeri Sakura sana harakiri itu tanda mulia, pemberani dan setia. Mulia karena lebih baik mati daripada hidup menanggung malu. Pemberani karena demi harga diri si pelaku rela mengorbankan nyawanya. Setia karena itu adalah salah satu wujud loyalitas pada shogun, atasannya.
Kemudian disejajarkan dengan dosa yang notabene adalah konsekuensi dari perbuatan yang dilarang Tuhan–yang menurut perkiraan gwa–disembah agama tertentu (dalam hal ini islam). Apa gak tulalit itu? Padahal orang Jepang penyembah dewa dan matahari. Untuk mereka para pelakunya, bagian mana sih yang jadi dosa? Bukannya malah membanggakan dikenang sebagai orang yang punya 3 karakteristik keren kayak gitu?
Tapi ah…. sudahlah.â„¢
[Makasih buad Maz Fahmi, Gajah Senior, yang udah mbikinin tm kecil-kecil dan minjemin "ah... sudahlah"nya...]
July 3rd, 2005 at 3:47 am
halo Pit!
errr…harakiri hanyalah satu dari sekian bentuk bunuh diri, namun seperti kamu tulis, latar belakangnya itu yang membuat harakiri ‘lebih bisa diterima’ dibandingkan dengan minum baygon ataupun menyayat urat nadi dengan sepotong silet (tumpul??heheheh…)
so, apapun bentuk dan metodenya, bunuh diri tetap dosa (menurutku), karena 4JJl sudah memberikan jatah hidup yang ‘tepat’ buat qt untuk mengemban tugas sebagai khalifah di muka bumi namun malah diignore :p
lainnya…as i always said…ah, sudahlahâ„¢