The Final Resolution
Live another day, climb a little higher
Find another reason to stay…
I saw Kurt Cobain once again. On TV, of course. His innocent, five-days-bearded face and long, blonde hair that never touched any comb came to life once more. And I recalled how he died.
Sekarang gwa ngetik ini ditemenin sama Another Day dari Dream Theater. Ironic.
Waktu kecil gwa nganggap orang bunuh diri itu bodoh. Mati, gila! Gak bisa maen, gak bisa baca, gak bisa nonton kartun, gak bisa liat hujan, gak bisa puter-puter perumnas naek sepeda, gak ada yang jual bakso, ga bisa makan masakan Ibu, gak bisa becanda ama Babab, de el el. Apalagi harus berteman dengan cacing-cacing dan ditinggal sendirian di lubang gelap tanpa penerangan sama sekali. Meskipun gwa suka maenan cacing, gwa ga suka badan gwa dibebat kain kafan.
Then my best friend, who lived across the street, died of Dengue when I was six. I hate hospital that took her away and never gave her back. Mom said that she went to heaven for good, in God’s hand. Well, I was sure that His hands were already full with people He took before my friend. So why should He take her too?
I grew up with both ears and eyes open wide. Pagi itu gwa ada disana saat telapak Mbah Uh tersayang mendingin, dan gwa berusaha menggosok sepasang kaki renta itu untuk bikin jadi hangat lagi. Saat usaha gwa sia-sia, hangat itu berusaha gwa kejar dan menahannya disana, di betis dan di lutut, dengan semua doa yang gwa bisa, tapi percuma. Dibantu tuntunan kalimah-kalimah suci dari Pakde dan Babab, Simbah dipanggil Tuhan dengan tenang, meninggalkan lelehan air mata di pipi istri, anak-anak dan salah satu cucunya ini.
Waktu belahan jiwanya tiada, Mbah Uti jadi malas bertahan. Setahun kemudian beliau juga dipanggil Tuhan. Sayangnya, gwa datang terlambat. Waktu gwa udah nyampe, hanya jenazahnya yang terbujur kaku di ruang tamu. Mendadak gwa halusinasi. Gwa masih merasa tubuh itu hanya tidur, nungguin gwa seperti biasa ketika liburan datang. Yang nantinya repot di dapur dan mbikinin ‘Ayam Goreng Sampah’ yang spicy dan berremah as I like it yang ga ada duanya sampe sekarang pun. Gak ada airmata tertumpah, hanya ciuman sayang gwa di kedua pipi dan kening keriput dan dingin.
Suatu malam setelah Lebaran tiba-tiba gwa dikagetin telepon dari rumah yang ngabarin Om gwa tersayang ‘menghadap’ Dia untuk selamanya. Mati bujang. Beberapa tahun sebelumnya, sepupu Ibu yang baik, tanpa anak dan sering cerita-cerita saat ponakan-ponakannya yang bandel bertandang sambil ngemil kue coklat buatannya itu juga pergi karena serangan jantung. Dua jiwa baik dipanggil tanpa gwa sempat farewell sama mereka.
Lalu gwa denger bocah SD di belahan bumi lain yang terjun dari gedung apartemen tempat tinggalnya karena nilai rapor yang jelek. Seorang kakek memasang tali di lehernya sendiri dan tergantung selama beberapa jam hingga hilang nyawa karena putus asa dengan penyakitnya yang gak kunjung sembuh. Jauh beberapa tahun sebelumnya ada… Kurt Cobain. Dan pendapat gwa berubah total.
I hate myself, I want to die, katanya. Keterpurukan yang menjadi karena krisis eksistensinya di dunia, dimana dia dipandang sebagai ikon dan komoditi industri musik sementara yang ingin dilakukannya hanya menyuarakan kerisauan hati dan pikiran yang terpendam dalam pribadi pemalu. Dia muak ketika harapannya gak jadi kenyataan. Dia muak dengan semuanya. Dan pemberontak itu pun tetap jadi pemberontak sampai di ujung hidup. Well, at least that’s what I thought sebelum adanya teori pembunuhan Mas Kurt itu.
If struggling is not enough, maybe death is your ultimate relief… disengaja atau tidak.
June 11th, 2005 at 3:01 pm
dalem bo’ dalem …
*menunduk*