WOMAN WOMINI LUPUS
Tuesday, April 26th, 2005What would it become when a woman declare herself to raise arm against God himself? What would it be when she said that Lucifer had failed, for he is male, and she might do better, being female?
Ini memang cerita fiksi, yang dibikin oleh Nenek Fay Weldon di tahun enampuluhan, saat feminis baru bergaung. Fiski yang oleh sebagian besar kritikus disebut ‘black comedy’, yang bikin semua bulu tubuh meremang, saking idenya terlalu gila, bahkan buat gwa, yang disebut generasi MTV.
Berawal dari Ruth, perempuan bernasib malang dalam lotere ‘kehidupan perempuan’, dilahirkan dengan postur tinggi besar dan gendut, dengan 4 tahi lalat di wajah yang salah tiganya menumbuhkan rambut, dengan rahang mencuat dan mata melesak ke dalam, dari seorang ibu cantik jelita halus tutur-budi-bahasa yang melarikan diri dari suami setia. Menikah lagi dengan lelaki lain, menghasilkan dua putri yang mewariskan garis sang ibu, who know to charm, and they charmed even Ruth.
Sebagai perempuan, Ruth mengharap apa yang dialami perempuan lain: romantisme, kecantikan, tubuh menggiurkan, kekuasaan terhadap lelaki: atas kantong dan hati mereka. Dia bersaing dengan Mary Fisher, penulis novel picisan yang menuliskan kebohongan, memiliki semua yang diinginkan perempuan, yang digilai suami ahli pajak yang tampan, Bobbo. Bobbo menganggap pernikahannya dengan Ruth adalah ‘kecelakaan’, walau membuahkan sepasang putra-putri (Andy dan Nicola) dan menuntut ‘open marriage’, dimana dia bebas untuk bereksplorasi seksual dengan Mary Fisher di High Tower, bekas mercusuar yang dirombak jadi rumah, dan menceritakannya pada sang istri.
Ruth mendendam pada keadaan. Bobbo bilang perasaan pedih yang Ruth rasa akan hilang, dan Ruth tersenyum, menunggu pedih itu melenyap, tanpa hasil. Sampai suatu ketika kedua mertuanya datang makan malam dan Ruth membeberkan perselingkuhan antara suami dan gundiknya. Makan malam rusak, mertuanya pergi tanpa membawa penyelesaian, dan Bobbo tidak terima. Disebutnya Ruth sebagai istri dan ibu yang buruk, dan bahkan menjulukinya iblis betina. Ruth kaget, karena dia mengira semua peran sudah dilakukannya dengan benar; mencinta suami tanpa syarat, melayani, mendengarkan keluh-kesah dan percintaan dengan sang gundik dengan baik, dan rela menjadi sumber yang tak akan kering demi pertumbuhan kedua anaknya.
Saat itulah Ruth bermetamorfosis, membuang keperempuanan, keibuan, dan keistriannya, dan menjadi apa yang diumpatkan si suami: iblis betina.
Dalam perkembangannya untuk menjadi iblis betina utuh, Ruth harus melanggar peraturan pertama: ketidaksucian. Dia bercinta dengan Carver, pak tua berusia enampuluhan penjaga lapangan tenis di tempat tinggalnya, Eden Grove, di daerah sub-urban. Dari meja dalam gubuk Carver, Ruth mengambil rokok untuk membakar rumahnya di Nightbird Drive No. 19 yang sedianya bakal dijual Bobbo untuk memulai hidup barunya dengan Mary Fisher. Lalu Ruth pergi ke High Tower untuk meninggalkan anak-anaknya dengan ayah dan ibu baru mereka, dan pergi untuk menuntaskan metamorfosisnya.
Dalam perjalanannya membalas dendam, dia bertemu Geoffrey dan Ruth membantunya pulih dari penyakit hilang kepercayaan. Dia juga bertemu Mrs. Fisher, ibunya Mary Fisher di panti jompo dan mengembalikan si ibu yang pikun ke haribaan putrinya di High Tower. Bertemu Nurse Hopkins yang pendek sesendok teh tapi lebar sebesar rumah dan membangun agen penyalur tenaga kerja perempuan bernama Vesta Rose Agency yang megkhususkan diri bagi para perempuan yang kembali ke pasar buruh setelah berakhirnya masa jabatan sebagai istri seseorang.
Ruth mengacak-ngacak pembukuan Bobbo. Dia mengendap datang ke kantor Bobbo di kota dengan kunci master guna memalsukan tanda tangan sang suami dan menyetor sejumlah uang dari rekening klien ke rekening pribadinya, sampai berjumlah 2 juta dollar. Suatu hari Bobbo tertangkap saat tim audit tahunan bekerja keras pada rekeningnya, dan Ruth, dengan akal dan kelicikannya sebagai iblis betina, membawa kabur uang itu untuk merombak total tubuhnya bagai Mary Fisher. Well, if you can’t beat ‘em, join ‘em!
Sebagai Polly Patch, dia bekerja di rumah Judge Bissop, hakim yang menangani kasus Bobbo dan ikut memutuskan berapa lama hukuman yang layak baginya, disela tarikan bulu pubis dan gigitan keras di puting payudara, atau hantaman rotan yang biasa untuk memukul kasur. Bayarannya tidak murah. Dia harus menjadi lawan penuntas nafsu binatang sang hakim sadis: Il Faut Souffrir. The more you want, the more you suffer, saat si hakim menanyakan kesediaannya sebagai wadah pemuas syahwat. Sama halnya putri duyung yang mendamba sepasang kaki pengganti sirip ekor agar layak dicinta pangeran yang perfeksionis, yang setiap langkahnya bagai berjalan di atas ribuan pisau.
Dengan uangnya yang jutaan dollar, Ruth mengecilkan rahang, memecahkan tulang pipi, mencabut seluruh geligi kuat dan lebar untuk diganti dengan deretan mungil seputih mutiara, memendekkan lengan dan mematahkan femur, mengoperasi hidung dan bahkan menata kembali letak organ dalamnya untuk mencapai bentuk yang dia inginkan: enam kaki dua inci, ramping, wajah lugu, dan senyum menawan. Dia bahkan membuat kedua dokter bedah kosmetiknya terpesona, karena mereka mengganggap diri sebagai Pygmalion dan tidak ada Aphrodite untuk meniupkan jiwa ke dalam tubuh Ruth agar perempuan itu patuh dan menghamba pada mereka. Mengecewakan dan bahkan sampai membuat mereka berkelahi. Dan Ruth, menirukan perkataan Mary Fisher dalam situasi seperti ini: “You’ve been very naughty…” sambil menggoyang-goyangkan telunjuknya pada kedua lelaki dewasa tersebut.
Judul aslinya The Life and Loves of a She-Devil, terbitan Ballantine Book tahun 1983. Fay Weldon penulisnya, seorang ibu yang lahir tahun tigapuluhan di Inggris tapi besar di New Zealand, berasal dari keluarga aristokrat dari ayah dokter, ibu penulis fiksi dan punya paman yang juga penulis. Usia lima tahun orangtuanya bercerai, dan dia tinggal dengan ibu, nenek dan dua adiknya. Menyelesaikan kuliah ekonomi dan psikologinya di St. Andrew’s University di Scotland karena dianggap lelaki (nama baptisnya adalah Franklin) dan mulai menulis pada tahun enampuluhan.
Sedikit-banyak, novel ini menggambarkan perjalanan hidup Fay Weldon sendiri yang harus menjalani beberapa tahun kehidupannya tanpa suami dengan dua anak dan menyuarakan ketidakpuasan dan ketidakadilan pada dunia dan, khususnya, lelaki sebagai pengatur yang terlalu mengatur dan pengeluh. Buku ini berakhir tragis, dengan matinya Mary Fisher karena kanker dan kembalinya Bobbo ke pelukan Ruth, yang saat itu sudah mewujud persis bagai Mary Fisher, perempuan yang merebut suaminya dan mencampakkannya, sebagai istri dan ibu, dan menggerogotinya dengan dendam tanpa Mary Fisher sadar bahwa semua nasib buruknya adalah ulah istri kekasihnya sendiri.
Perempuan adalah pemangsa bagi perempuan yang lain. Dan Ruth memangsa Mary Fisher, mendapatkan lagi suaminya yang lemah dan tanpa daya sekeluarnya dari penjara yang menghukumnya atas perbuatan yang dilakukan sang istri, mengambil alih High Tower, dan mengakhiri pandangan dunia atas bentuk tubuhnya dulu yang dianggap aneh.
I am a lady of six foot two, who had tucks taken in her legs. A comic turn, turned serious.
Plotnya asik, gak mbingungin, dengan perspektif orang ketiga dan kadang dari Ruth sendiri, dengan pilihan kalimat dan frase aktif dan agak agresif: sangat jarang buat penulis perempuan yang biasa menulis dalam kalimat pasif. A must-read buat perempuan yang merasa terlalu lama tertindas dalam sistem patriarkis dan perlu penguatan. Perlu juga dibaca para lelaki yang merasa superior atas perempuan, sebagai reflektor, atau mereka yang book-junkies. Karya-karyanya antara lain: Remember Me, Words of Advice, Praxis, Puffball, beberapa naskah drama berjudul After the Prize, Action Replay dan Love My Love.
Tunggu terbitan bahasa Indonesianya, ya! Gwa ampe nyuekin “Billy Milligan Project” buat nenek Fay ini. Mudah-mudahan aja cepet kelar! (=
Source: http://www.redmood.com/weldon/biography.html