Archive for April, 2005

WOMAN WOMINI LUPUS

Tuesday, April 26th, 2005

What would it become when a woman declare herself to raise arm against God himself? What would it be when she said that Lucifer had failed, for he is male, and she might do better, being female?

Ini memang cerita fiksi, yang dibikin oleh Nenek Fay Weldon di tahun enampuluhan, saat feminis baru bergaung. Fiski yang oleh sebagian besar kritikus disebut ‘black comedy’, yang bikin semua bulu tubuh meremang, saking idenya terlalu gila, bahkan buat gwa, yang disebut generasi MTV.

Berawal dari Ruth, perempuan bernasib malang dalam lotere ‘kehidupan perempuan’, dilahirkan dengan postur tinggi besar dan gendut, dengan 4 tahi lalat di wajah yang salah tiganya menumbuhkan rambut, dengan rahang mencuat dan mata melesak ke dalam, dari seorang ibu cantik jelita halus tutur-budi-bahasa yang melarikan diri dari suami setia. Menikah lagi dengan lelaki lain, menghasilkan dua putri yang mewariskan garis sang ibu, who know to charm, and they charmed even Ruth.

Sebagai perempuan, Ruth mengharap apa yang dialami perempuan lain: romantisme, kecantikan, tubuh menggiurkan, kekuasaan terhadap lelaki: atas kantong dan hati mereka. Dia bersaing dengan Mary Fisher, penulis novel picisan yang menuliskan kebohongan, memiliki semua yang diinginkan perempuan, yang digilai suami ahli pajak yang tampan, Bobbo. Bobbo menganggap pernikahannya dengan Ruth adalah ‘kecelakaan’, walau membuahkan sepasang putra-putri (Andy dan Nicola) dan menuntut ‘open marriage’, dimana dia bebas untuk bereksplorasi seksual dengan Mary Fisher di High Tower, bekas mercusuar yang dirombak jadi rumah, dan menceritakannya pada sang istri.

Ruth mendendam pada keadaan. Bobbo bilang perasaan pedih yang Ruth rasa akan hilang, dan Ruth tersenyum, menunggu pedih itu melenyap, tanpa hasil. Sampai suatu ketika kedua mertuanya datang makan malam dan Ruth membeberkan perselingkuhan antara suami dan gundiknya. Makan malam rusak, mertuanya pergi tanpa membawa penyelesaian, dan Bobbo tidak terima. Disebutnya Ruth sebagai istri dan ibu yang buruk, dan bahkan menjulukinya iblis betina. Ruth kaget, karena dia mengira semua peran sudah dilakukannya dengan benar; mencinta suami tanpa syarat, melayani, mendengarkan keluh-kesah dan percintaan dengan sang gundik dengan baik, dan rela menjadi sumber yang tak akan kering demi pertumbuhan kedua anaknya.

Saat itulah Ruth bermetamorfosis, membuang keperempuanan, keibuan, dan keistriannya, dan menjadi apa yang diumpatkan si suami: iblis betina.

Dalam perkembangannya untuk menjadi iblis betina utuh, Ruth harus melanggar peraturan pertama: ketidaksucian. Dia bercinta dengan Carver, pak tua berusia enampuluhan penjaga lapangan tenis di tempat tinggalnya, Eden Grove, di daerah sub-urban. Dari meja dalam gubuk Carver, Ruth mengambil rokok untuk membakar rumahnya di Nightbird Drive No. 19 yang sedianya bakal dijual Bobbo untuk memulai hidup barunya dengan Mary Fisher. Lalu Ruth pergi ke High Tower untuk meninggalkan anak-anaknya dengan ayah dan ibu baru mereka, dan pergi untuk menuntaskan metamorfosisnya.

Dalam perjalanannya membalas dendam, dia bertemu Geoffrey dan Ruth membantunya pulih dari penyakit hilang kepercayaan. Dia juga bertemu Mrs. Fisher, ibunya Mary Fisher di panti jompo dan mengembalikan si ibu yang pikun ke haribaan putrinya di High Tower. Bertemu Nurse Hopkins yang pendek sesendok teh tapi lebar sebesar rumah dan membangun agen penyalur tenaga kerja perempuan bernama Vesta Rose Agency yang megkhususkan diri bagi para perempuan yang kembali ke pasar buruh setelah berakhirnya masa jabatan sebagai istri seseorang.

Ruth mengacak-ngacak pembukuan Bobbo. Dia mengendap datang ke kantor Bobbo di kota dengan kunci master guna memalsukan tanda tangan sang suami dan menyetor sejumlah uang dari rekening klien ke rekening pribadinya, sampai berjumlah 2 juta dollar. Suatu hari Bobbo tertangkap saat tim audit tahunan bekerja keras pada rekeningnya, dan Ruth, dengan akal dan kelicikannya sebagai iblis betina, membawa kabur uang itu untuk merombak total tubuhnya bagai Mary Fisher. Well, if you can’t beat ‘em, join ‘em!

Sebagai Polly Patch, dia bekerja di rumah Judge Bissop, hakim yang menangani kasus Bobbo dan ikut memutuskan berapa lama hukuman yang layak baginya, disela tarikan bulu pubis dan gigitan keras di puting payudara, atau hantaman rotan yang biasa untuk memukul kasur. Bayarannya tidak murah. Dia harus menjadi lawan penuntas nafsu binatang sang hakim sadis: Il Faut Souffrir. The more you want, the more you suffer, saat si hakim menanyakan kesediaannya sebagai wadah pemuas syahwat. Sama halnya putri duyung yang mendamba sepasang kaki pengganti sirip ekor agar layak dicinta pangeran yang perfeksionis, yang setiap langkahnya bagai berjalan di atas ribuan pisau.

Dengan uangnya yang jutaan dollar, Ruth mengecilkan rahang, memecahkan tulang pipi, mencabut seluruh geligi kuat dan lebar untuk diganti dengan deretan mungil seputih mutiara, memendekkan lengan dan mematahkan femur, mengoperasi hidung dan bahkan menata kembali letak organ dalamnya untuk mencapai bentuk yang dia inginkan: enam kaki dua inci, ramping, wajah lugu, dan senyum menawan. Dia bahkan membuat kedua dokter bedah kosmetiknya terpesona, karena mereka mengganggap diri sebagai Pygmalion dan tidak ada Aphrodite untuk meniupkan jiwa ke dalam tubuh Ruth agar perempuan itu patuh dan menghamba pada mereka. Mengecewakan dan bahkan sampai membuat mereka berkelahi. Dan Ruth, menirukan perkataan Mary Fisher dalam situasi seperti ini: “You’ve been very naughty…” sambil menggoyang-goyangkan telunjuknya pada kedua lelaki dewasa tersebut.

Judul aslinya The Life and Loves of a She-Devil, terbitan Ballantine Book tahun 1983. Fay Weldon penulisnya, seorang ibu yang lahir tahun tigapuluhan di Inggris tapi besar di New Zealand, berasal dari keluarga aristokrat dari ayah dokter, ibu penulis fiksi dan punya paman yang juga penulis. Usia lima tahun orangtuanya bercerai, dan dia tinggal dengan ibu, nenek dan dua adiknya. Menyelesaikan kuliah ekonomi dan psikologinya di St. Andrew’s University di Scotland karena dianggap lelaki (nama baptisnya adalah Franklin) dan mulai menulis pada tahun enampuluhan.

Sedikit-banyak, novel ini menggambarkan perjalanan hidup Fay Weldon sendiri yang harus menjalani beberapa tahun kehidupannya tanpa suami dengan dua anak dan menyuarakan ketidakpuasan dan ketidakadilan pada dunia dan, khususnya, lelaki sebagai pengatur yang terlalu mengatur dan pengeluh. Buku ini berakhir tragis, dengan matinya Mary Fisher karena kanker dan kembalinya Bobbo ke pelukan Ruth, yang saat itu sudah mewujud persis bagai Mary Fisher, perempuan yang merebut suaminya dan mencampakkannya, sebagai istri dan ibu, dan menggerogotinya dengan dendam tanpa Mary Fisher sadar bahwa semua nasib buruknya adalah ulah istri kekasihnya sendiri.

Perempuan adalah pemangsa bagi perempuan yang lain. Dan Ruth memangsa Mary Fisher, mendapatkan lagi suaminya yang lemah dan tanpa daya sekeluarnya dari penjara yang menghukumnya atas perbuatan yang dilakukan sang istri, mengambil alih High Tower, dan mengakhiri pandangan dunia atas bentuk tubuhnya dulu yang dianggap aneh.

I am a lady of six foot two, who had tucks taken in her legs. A comic turn, turned serious.

Plotnya asik, gak mbingungin, dengan perspektif orang ketiga dan kadang dari Ruth sendiri, dengan pilihan kalimat dan frase aktif dan agak agresif: sangat jarang buat penulis perempuan yang biasa menulis dalam kalimat pasif. A must-read buat perempuan yang merasa terlalu lama tertindas dalam sistem patriarkis dan perlu penguatan. Perlu juga dibaca para lelaki yang merasa superior atas perempuan, sebagai reflektor, atau mereka yang book-junkies. Karya-karyanya antara lain: Remember Me, Words of Advice, Praxis, Puffball, beberapa naskah drama berjudul After the Prize, Action Replay dan Love My Love.

Tunggu terbitan bahasa Indonesianya, ya! Gwa ampe nyuekin “Billy Milligan Project” buat nenek Fay ini. Mudah-mudahan aja cepet kelar! (=

Source: http://www.redmood.com/weldon/biography.html

Rain Drops Keep Fallin’ on My Head…

Saturday, April 16th, 2005

    Sore disapa hujan dan gwa mikirin jemuran yang nggak kering-kering. Mungkin pikiran gwa sama dengan jutaan orang yang merasa terjebak dalam cuaca seperti ini: pakaian bergelantungan dalam kamar dalam usaha terakhir menunggu kering, terdampar di rumah karena ogah pergi berbasah-basah, males kuliah, dll.

    Tapi tiap kejadian pasti ada maknanya. Buat gwa, hujan begini enaknya ditemenin segelas minuman hangat. Kopi? Ganti dunk! Teh susu + madu. Dan, believe me, ada surga di dunia.

    Gwa suka hujan. Suaranya selalu bikin tenang. Pernah waktu 2×24 jam gwa ga bisa tidur sekejap pun setelah 2 jam baring-baring di kasur dengan posisi se-PW-PW-nya dan ruangan senyaman-nyamannya tanpa bisa lelap, akhirnya hujan datang. Rinai monotonnya akhirnya bisa bikin gwa ngawang ke nyenyak yang segar besoknya. Terapi dari langit. Tapi sungguh gak kebeli.

    Dulu, kalo persediaan anti-demam anak-anak rasa jeruk Bunda udah abis dan gwa ga bisa hujan-hujanan, gwa betah duduk berlama-lama di ambang jendela untuk ngamatin aliran air di kaca sampai selesai. Lembut, halus, bikin jalur-jalur sungai kecil yang walau gwa pegang ga bakal berubah dan ga bakal tersentuh. Sementara seisi rumah menikmatinya dengan cara lain: tidur. Waktu gwa punya adik, dia gwa tularin kebiasaan yang sama. Si plenyun ini sering ketiduran saat gwa pangku liat hujan. Mukanya lucu, berpipi tembem dan kepala plontos + hidung pesek dan bibir tipis lancip. Kalo udah gitu, perhatian teralih. Kasihan hujan.

    Petani menyambut hujan di musim kemarau layaknya kekasih yang merindu. Bagi mereka, hujan adalah berkah, karena sawah dan ladang bisa basah dan subur. Karena mereka bisa berharap panen bakal bagus nanti. Bisa dijual mahal, walaupun kenyataannya di sini petani dan nelayan jarang banget yang tercukupi. Waktu dulu kelas 5 SD, gwa juga sering berharap hujan seperti para petani. Karena gwa bisa belajar cari duit dengan ngojek payung, menangguk receh dari para mbak-mbak dan mas-mas kuliahan di sekitaran LA (Lenteng Agung) yang mau ke stasiun atau shelter bis. Pulangnya, gwa bisa beli mi ayam untuk Bunda dan diri gwa sendiri (Waktu itu harganya masih 300 perak! 2x jalan!) dan sisanya gwa serahin ke Bunda yang diterima dengan raut rada prihatin. Tapi akhirnya Bunda mau ngerti kalo ini adalah pengembangan dari hujan-hujanan yang dulu cuma buat senang-senang, sekarang bisa ngehasilin duit! =P

    Aspal basah. Dedaunan segar. Debu lenyap. Dan usaha panjang gwa menapaki dunia layaknya hujan. Gemuruh sebelum hujan memang kadang menakutkan. Tapi tetesannya ramah menyapa bumi, menguapkan panas, mengusir lelah, menuai hasil. Sama seperti ritual Bunda yang memberi 2 butir tablet anti-flu anak-anak sebelum gwa berhujan-hujan, gwa bermodalkan trial-and-error dan pemaknaan akan itu semua, mekipun mentah, sebagai amunisi untuk menghadapi jagad dan isinya. Mungkin gwa bakal tumbang karena demam, sebab pertahanan gwa kurang kuat melawan virus flu, tapi gwa ga bakal lelah untuk bangkit. Sama seperti hujan yang sering datang mendadak, kekuatan self-healing gwa juga sering mengejutkan.

    

Nil Bastardi Carborundum, kata Vickie, salah satu karakter dalam novel yang baru selesai gwa baca. Seberapa keras kalian berusaha, I won’t let the bastards grind me down. Karena gwa punya hujan yang membawa ketenangan.

GROWING PAIN

Wednesday, April 13th, 2005

    I lost my best friend today. Traumatis sekali. Saat gwa udah setua ini, saat gwa pikir ga bakal gwa alamin lagi, tetep aja gwa ga bisa ngindar. Dan gwa sering menghujat keadaan dalam situasi seperti ini. Gwa ngalamin dua kali, man! Dan rasanya bener-bener gak enak. Percaya deh!

     The art of communication. Mungkin itu yang kurang. Yang harusnya bisa transfer gagasan dari satu orang ke orang lain agar maksud dan reaksi yang diinginkan tercapai, yang bagi sebagian orang cuma hal sepele, gwa ga bisa. Bodoh! 

    Tapi kehilangan teman seperti belajar naik sepeda. Dulu gwa belajar sepeda pas kelas tiga es de, harus meluncur dulu dari turunan yang kemiringannya hampir 45 derajat dan berakhir di got kering dengan lutut berdarah-darah, pipi beset-beset dan memar di sekujur tubuh kemudian demam sehari-semalam. Tapi (gak tau ini kutukan atau berkah) gwa ga kapok. Begitu sembuh, gwa langsung belajar lagi, sekarang di lapangan landai, dan Alhamdulillah bisa, meskipun masih suka lupa ngerem.
Sama dengan bayi yang belajar berjalan. Harus berusaha berdiri sambil pegangan ke benda solid terdekat, lalu merembet, kemudian menapak selangkah demi selangkah diselingi jatuh.

     Semua perlu proses. Semua perlu waktu, usaha, dan kegigihan. Sering menyakitkan, tapi ini yang harus dilalui untuk bertumbuh.

     Gwa dapet semangat dari kakak-kakak sepupu gwa, pemilik sepeda malang itu, untuk terus belajar sampe bisa. Para bayi disemangatin ibu-bapaknya. Sekarang yang bisa nyemangatin gwa cuma diri gwa sendiri. Dan my ‘Last Resort’ nun jauh disana.

    Kesel, sakit, amat sangat sakit. Sakit yang gak keliatan. Sakit yang mengendap sampai akhirnya hilang bersama waktu. Gwa perlu kesakitan itu. Untuk belajar dan berproses jadi lebih baik. Mungkin kawah kehidupan tempat kami digodok belum sehebat Kawah Candradimuka dimana Gatotkaca jadi sakti mandra-bokir-mpok-nori-dkk dan dapet gelar ‘otot kawat balung wesi’ literally. Mungkin di kehidupan beberapa tahun nanti semuanya terjelaskan dan akhirnya selesai. Mungkin cuma waktu yang kami perlu. When a friend makes a mistake, write it on the sand, so the sea could wash it away and the wind could take it anywhere it blows. When YOU make a mistake, write it on a stone, so you could look it up and remember not to make the same one. Klise. Tapi perlu!   

     "Let me feel the pain. Let it flows in my veins to my heart, my head, my brain. Let it fill every space inside me. Let me bleed, but I will not thinking of dying. Because Pain is Power and I’ll keep on living!"

And I sing a hymn to the death of love and pain… [Fay Weldon's The Life and Love of A She-Devil]

Teriring salam tunduk pada pemilik kutipan di atas. Semoga berbahagia, sekarang, dengan jalan hidup yang udah lo pilih…

…nothingness…

Thursday, April 7th, 2005

bangsat! keparat! rasanya pengen misuh aja beberapa hari ini. sayang, ga ada yang rela dipisuhi. cuma gelas aja yang kemarin jadi korban, dibanting berkeping-keping sampe ga berbentuk lagi. otak udah ga ada fungsi nih. sarap-sarap juga udah ga mo singkron sampe gwanya sarap beneran. pengen coba orgasme artifisial dengan dengerin om bono, malah nyasar ke ‘your turn’nya helloween. ini sih sama seperti pasangan yang udah mo sampe klimaks, tapi ternyata yang didesahkan nama orang lain. bajingan tenan!

kenapa ya? ayo, nduk! defrag otak! biar gak katut ama melankolik yang bitchy! it’s jez not you.  jangan selalu salahin hormon. jangan selalu salahin orang lain yang gak ngerti kamu. kamu yang harusnya coba cari pengertian dalam dirimu sendiri. jangan salahkan orang yang gak ingat kamu, tapi kamunya yang harus bergerak untuk cari tau kenapa dia bisa seperti itu. ngerti koq, nduk. it’s such a fuckin-helluva-bad-bitchy-feelin u kept inside, yang kau peram sampai matang dan akhirnya busuk. sekarang sudah mulai tercium baunya. aku iso ngrasakno tekan kene, tekan njero-njeromu. jok nganti kumbar, konangan wong lio. kasian mereka, have pity to the innocent bystanders! iki perasaan prerogatifmu. orang mungkin bisa ngerti apa yang lo rasain, in general, tapi jangan sampe mereka tau itu tentang apa.

bicara, nduk! bicara! walau hanya lirih. meskipun hanya bisik. disini tempatmu. aku temanmu. saat gak ada orang lagi di dunia, saat gak ada lagi perlindungan aman senyaman rahim simbok, kamu masih punya aku… dirimu sendiri. kenapa susah sekali kamu buka dirimu bahkan untuk aku?

[it's MY turn to break free...]

ps: i miz my sis yang keplenyunannya meneguhkan hati, menguatkan diri, mencerahkan dunia… hati-hati di luar sana ya, dek. gak semua orang baik seperti kamu.

Untitled #1

Tuesday, April 5th, 2005

[Dengan Silent Man dari Dream Theater menyumpal telinga, dan kopi... juga rokok!]
Setelah menghasilkan sedikit kotoran di halaman yang memang diperuntukkan untuk tulisan, lalu dibaca-baca lagi, ternyata gwa baru sadar. I never thought writing can be this amusing. Pantes aja banyak orang yang addicted to blog. Apalagi kalo udah dikomentarin… Wah! Bikin semangat! Apalagi kalo udah dikritik dan dihujat… Wah! Bikin tambah kenceng ide yang ngalir!

Gwa suka disini. Suka suara senyap gwa didengar meskipun gwa berteriak lantang. Suka gerundelan gwa menemukan arahnya yang benar. Suka karena akhirnya gwa ga cuma bisa ngomong doang. Walopun ga ada orang lain yang baca selain temen-temen gwa, peduli setan. Setan aja ga peduli ama gwa! =P

But things have their 2 sides, good and bad. Bagusnya, gwa bisa tickle the brain (term used by my old-time buddy yang sekarang ntah dimana) I got left. I can improve my speed and accuracy in typing. Tapi yang pasti sih karena gwa bisa shouting my mind out loud tanpa ganggu tetangga, dun care who might listen. Malahan mas-mas yang jaga warnet seneng, mereka bisa tidur dengan gwa sebagai ganti. Dun like my writing? Scram!

The bad? Gwa ga pernah bisa berenti nyepur kalo udah di depan monitor atau kertas dan pensil )= Ampe temen gwa protes, karena sekarang dia lebih sering liad gwa berasap daripada makan.  Mungkin otak gwa udah lama tersugesti untuk merintah sarap-sarap (ga usah protes. Emang tulisannya sarap) motorik 2 reach the cigarette pack and burn one of its filling. Kecuali kalo jemari yang sedang njepit si bangsat tersayang itu udah berasa basah, atau handuk kecil yang gwa pake buat alas nulis udah lembab. It’s time to put it off. Jez for a few minutes, tetep.

Not only that. Si bangsat yang bikin gwa jadi bangkrut itu harus disandingkan dengan cairan sehitam kali Jakarta yang bikin sebagian orang lemah kafein bakal deg-degan. Lha wong ga usah ngoprek gini aja gwa udah ngabisin 250 gr kopi bubuk–ditambah 125 gr kopi instan–kurang dari sebulan! Sementara gula 1/2 kiloan yang gwa beli barengan ama mereka bakalannya baru abiz sebulan kemudian. Dang!

Sebagai anak kos, gwa sering belanja bareng temen-temen kalo pas ada duit. Kayak kemaren nih, kebetulan beli-beli amunisi lemari logistik. Waktu sampe di kasir, kedua temen gwa rata-rata sama aja items-nya: mi instan, susu, toiletries, sabun cuci, perawatan muka, pembalut, dan macem-macem cemilan  yang jumlahnya 3 kantong. Mine: mi instan, susu, toiletries, sabun cuci, dan 3 kantong… kopi. Temen gwa ampe geleng-geleng gaya tripping (masih jaman ga sih?).

I used to have temen sahur yang biasa ngajak makan jam 3 pagi waktu masih jaga warnet dulu karena kita sama-sama manusia malam. Dia wartawan budaya freelance yang pernah bikin profil gwa yang berkesan hedon untuk dibandingin sama Aji yang aktivis (I wonder kemana dia sekarang) dalam tulisannya di majalah Latitude. He editted my first book, a translation novel by Russian author (Doestoyevski atau siapa lah. Gwa ga pernah bener spellingnya). Dulu kita pernah nonton CD Bandung Lautan Asmara dan Medan, lalu kita diskusi-diskusi sosio-kultural tentang itu dan jadi bahan tulisan di portal budaya yang lagi dia rintis. Selama gwa kenal dia, gak pernah dia anggap gwa perempuan dewasa. I was jez a childish sista for him. Gayanya memotivasi gwa untuk maju adalah ngenyek dan nyela. Sampe suatu malam setelah nonton Matrix bareng-bareng dan sedikit diskusi, dia ngomong kalo gwa harus nyoba nulis. Itu dikatakan di atas motor yang melaju terseok-seok pada jam 1 malam. And I did what he told years later.

Here I am, Mas Git. With my own blog and ready to face the world with dignity. And a small amount of attitude. No matter how strong the wind might blow, I have my own sanctuary. Yang hanya webmaster can take it from me. LoL       

A CONFLICT OF INTEREST

Monday, April 4th, 2005

       Dalam politik gak ada teman atau musuh abadi. Yang ada hanya
kepentingan abadi.
Ucapan itu terlontar dari seorang cowok yang baru aja patah hati karena ditolak temen se-kos yang manis, cantik, pintar, lugu, cerdas, tapi galak! But still, dia ga mau ngakuin patah hatinya. "Aku punya keinginan kuat sejak kecil untuk mendapatkan semua yang aku mau." The stubborn one. Bapak-ibunya mampu.

        Semua aspek dalam hidup selalu berpolitik. Entah itu di kos, keluarga, pacaran, atau sekolah. Dalam pemerintahan dan bisnis apalagi! Tapi… politik itu apa?

        Gwa sendiri juga gak pernah dan ga mau cari tahu tentang apa itu politik. Pertama, gwa udah ada prejudice sendiri kalo politik itu kotor. Kedua, karena emang gwa males nyari! =P
Tapi, menurut gwa pribadi sih politik itu identik dengan trik. Berpolitik di lingkungan kos  artinya lo harus punya trik gimana caranya tetangga kamar lo bisa jadi bank murah hati saat honor terjemahan belum cair, misalnya. Atau politik di kampus, yang sering gwa alami adalah gimana caranya gwa dapet pinjeman catetan yang rapih saat ga masuk mata kuliah tertentu dari pemilik buku yang galak. Some simple examples.

        Yang jadi masalah adalah saat dua kepentingan atau lebih saling bersinggungan dan ga bisa ‘gathuk’. Mungkin saat gwa mau ngajuin pinjeman ke bank baik itu pihak bank pengen beliin pacarnya celana dalem Oakley. Buat gwa, pinjeman itu bakal lebih berguna buat rokok dan sedikit makanan (juga kopi!) sampe tu honor cair ketimbang cawat, apapun mereknya. Tapi buat pihak bank, cawat itu lebih penting daripada kelangsungan hidup gwa karena itu menyangkut hubungan yang lebih menyenangkan daripada berhubungan dengan gwa. Ini yang namanya konflik kepentingan. Dan mbeliin penutup selangkang buat pacar namanya politik: diharapkan bisa bikin hubungan pacaran tambah langgeng dan manis walaupun dia gak berkesempatan untuk ngeliat gimana bentuk dan rupa cowoknya itu dalam boxer Oakley.

        Kenapa tiba-tiba gwa ngomongin itu? Karena beberapa hari yang lalu baru aja ada tragedi kemanusiaan: Proposal jadi pacar ditolak, bahkan saat belum dinyatakan! Pihak tertolak ga mau ngakuin kalo dia ‘nembak’, dan pihak penolak sebenernya juga udah jengah banget ngadepin si stubborn. Karena gwa kenal ama keduabelah pihak itu, jadilah gwa gajah di tengah-tengah pelanduk. Mereka kecil dan gwa gendud, man!

        Si tertolak amat sangat berkepentingan untuk jadiin penolak sebagai pacar, sementara penolak berkepentingan njauhin dia karena ngerasa keganggu dan dia bukan tipe  cowok yang dipengenin. Disini dua-duanya tarik-tarikan kepentingan, akhirnya mengundang gajah sebagai wasit.

         Sama halnya dengan bapak-bapak DPR kemaren yang kisruh saat sidang kenaikan BBM. Para anggota dewan yang terhormat itu mati-matian mbelain pendapatnya "atas nama rakyat" sampe harus gontok-gontokan dan ngotot kayak banci rebutan kostum tari. Sama halnya dengan konflik Ambalat yang bikin gelisah malaysia dan Indonesia. Sama dengan rubuhnya Tunggul Ametung di ujung keris Ken Arok, yang dibuat Empu Gandring, yang juga mati oleh senjata yang dibuatnya  sendiri.   

        Sebenarnya semua bisa dikompromikan dengan pemahaman. Tapi pemahaman yang bagaimana?

        Karena otak gwa ga mampu untuk ngurusin negara dan peraturannya, gwa kasih contoh pihak tertolak lain yang gak begitu stubborn seperti anak mama di atas, lagi-lagi dengan penolak yang sama. Kebetulan, lakon perempuannya ini punya semua yang diinginkan lelaki; tampang manis-cantik, bodi oke (walau teertutup jilbab) dan mungil, otak cerdas, dan sifat rada galak tapi bisa manja sama orang yang sudah dia kenal dekat. Isn’t that challenging, guys? Rekornya menolak cowok adalah 5x dalam seminggu, in her worst condition, dengan muka jerawatan dan kulit kebakar matahari karena kuliah lapangan di hutan jati. Si not-so-stubborn itu rajin kirim-kirim puisi lewat sms, rajin jadi ojek pribadi dalam cuaca apapun, rajin beliin oleh-oleh yang gak cuma dimakan sama target tapi juga dibantai mulut-mulut kelaparan di kos. Setelah dipikirnya situasi aman untuk nembak, keluarlah kata-kata keramat itu. Sayangnya, si cantik-manis ini masih menikmati kesendirian dan gak mau terganggu dengan tanggung jawab perpacaran. Tertolak merasa terluka, sempat patah, kemudian bangkit. Semua itu gak ditunjukkan ke algojo hatinya. Let It Be, kata Beatles. Gwa gak  tau seberapa dalam lukanya, tapi dia keukeuh ngelobby hubungan itu dengan tetap  jadi ojek pribadi, masih  beliin oleh-oleh buat kami, dan masih mau direpotin. Gak jadi pacar gak papa, asal orang-orang yang liat pada tau mereka rantang-runtung berdua. "Jatah gwa cuma segini," katanya. Itu politiknya dia untuk tidak merasa terlalu kehilangan. Well, at least he said that to me saat gwa bertanya tentang kegigihannya.

        Mungkin pemahaman mereka berdua baru segitu. Penolak ga mau nyakitin hati lawan jenis karena takut sama karma (atau apapun istilahnya), sementara tertolak nerima-nerima aja apapun hubungan yang ditawarkan dan didapatnya karena, menurut pengakuannya sendiri, jatah dia cuma segitu. Dan posisi tawarnya lebih rendah.

         Udah ah. Gwa mo ngerancang-rancang politik apa yang harus gwa pake untuk ‘melacurkan’ buku yang lagi gwa garap. Tulalit yax?
       

WEAKENED CREATURE

Monday, April 4th, 2005

            Dia bengong liat gwa makan banyak. Gwa laper, man! Perjalanan naek kreta ekonomi ke kota yang sama sekali asing, ditambah dengan mblusuk-mblusuk gak karuan karena ga tau jalan, bikin gwa stress dan memacu lambung untuk menggiling makanan dengan lebih gila.

            "Kamu kan cewek, koq makannya banyak? Nanti tambah ndut, lho," komentarnya. Gwa cuek. Cewek juga manusia. Punya perut punya mulut. Perlu makan perlu minum. Gak cuma cowok.

            Lalu gwa menghabiskan dua hari ke depan bersama dia dan teman-temannya.
            "Ngerokokmu banyak, ya. Kamu kan perempuan," ujar temannya saat gwa ‘nyepur’ gak berenti. Waktu gwa tanya kenapa perempuan dipertanyakan saat merokok banyak (bahkan hanya merokok sekalipun! Tanpa pake banyak!), dia bilang, "Sayang rahimmu nanti." Hah! Apa dia juga gak sayang sama kualitas spermanya yang bakal menurun saat dia ngerokok sama banyaknya dengan gwa? Laki-laki perokok gak lebih imun terhadap penyakit daripada perempuan perokok.

            Beberapa hari setelah gwa pulang dari kota yang sekarang gak begitu asing itu, lelaki lainnya kaget denger pengalaman petualangan gwa.
            "Kenapa kamu gak minta antar-jemput? Jam segitu di stasiun yang penuh preman? Bahaya! Kamu kan perempuan!" I only rolled my eyes with mouth dangling from my jaw, disgusted with the unbelievability.

             Sesudahnya ada cerita tentang si cantik. Suatu hari dia gak berangkat kuliah. Besoknya juga. Selama seminggu dia jadi penunggu kos sementara temen-temennya yang lain beraktifitas kesana-kemari. Alasannya? "Masku nggak jemput." Padahal ojek pribadinya itu lagi repot ngurusin persiapan KKN. Hanya karena itu si cantik kehilangan haknya mendapatkan ilmu.

            Lain lagi kisah si manja. Suatu siang dia mengeluh perih dan mual. Ternyata pacarnya yang tinggal di ibukota gak telpon untuk ngingetin makan. Selama 2 (dua) hari. "Pokoknya kalo masku belum nelpon, aku gak mau maem," ujarnya kenes sambil menahan nyeri. Terserah. Your tummy, your choice. Your life.

            Buat gwa, kasus si cantik dan si manja bener-bener gak masuk akal. Tapi nyata! Lha wong perut lo yang perlu makan, kenapa nunggu diingetin? Lo yang punya kewajiban kuliah, kenapa nunggu orang lain njemput? Walaupun sama-sama kuliah, tapi kan pertanggungjawabannya ke orangtua dan kehidupan lo sendiri yang masing-masing beda. Unbelievability to the core!

            Setelah dirunut, ternyata si manja emang dibiasakan (sampe akhirnya jadi terbiasa) untuk ditelpon pada jam-jam makan. Si cantik juga idem; dianter-jemput kemanapun dengan motor sampe hampir kehilangan fungsi kaki selain nilai estetisnya. Apa mereka senang? Ya. Karena mereka merasa diperhatikan. Merasa disayang. Padahal kalo dia kelaperan sampe mati apa masnya ngerasa laper dan kemudian mati juga?

            Ini penindasan namanya. Over-exposure jargon yang bilang perempuan itu mahluk lemah. Dan mereka akhirnya memang dilemahkan oleh beberapa ‘helping hands’ yang berharap jadi ‘pahlawan kesiangan’. What, then? Pride? For whose sake?

            Wake up, girls. Kita sama-sama diciptakan jadi manusia, dengan kemampuan dan jumlah kaki-tangan yang sama, dan anatomi yang hanya sedikit lebih halus dari lelaki. Bedanya cuma di selangkang, dada, dan di rongga perut. Lelaki, kalian gak harus tergopoh-gopoh, untuk ngingetin makan–atas nama ‘eman’ atau sayang–dan berkoar jadi hero of the day in doing so. Perempuan sanggup menahan nyeri haid tiap bulan yang kadang berlangsung sampai lebih dari 24 jam. Dan itu biasa! Perempuan juga sanggup bertahan dalam sakit yang seakan merobek tubuh ketika harus berjuang di batas antara hidup dan mati demi sebuah (atau lebih) kehidupan baru di dunia. High heels dan korset jaman jebot? Boy! Lo gak akan pernah tau gimana sakitnya merubah struktur tulang, perlahan-lahan, setiap hari, sampe bikin tulang keropos, hanya untuk tampil profesional atau ramping. Sementara Harry Potter hanya perlu beberapa hari untuk menumbuhkan tulang-tulang tangannya–thanx to madam Pomfrey’s potion.

         Ini bukan seruan untuk anti terhadap laki-laki. Gwa gak anti sama kalian, hai, para lelaki. Gwa perlu kalian sebagai Vitamin A, sebagaimana kalian perlu kami untuk hal yang sama: Demi kesehatan mata. Cewek hetero mana sih yang gak suka liatin cowok-cowok ganteng? Walaupun gwa juga suka melihat dan mengkritisi para perempuan berbodi bagus dan modis yang semua aspek tubuh pas pada tempatnya–dan yang ada dalam pikiran gwa adalah kekaguman atas niat dan kerja keras mereka dalam membentuk bokong bagai J-Lo dan bodi ibarat Beyonce Knowles–gwa tetep lebih memilih lelaki. Tapi kalo fungsi kalian hanya bikin perempuan hilang kemampuan untuk jadi mandiri dan cerdas, maka kami akan perlu laki-laki seperti kura-kura perlu sepeda. Karena perempuan dan laki-laki tetaplah bukan satu tubuh meskipun nanti dipersatukan dalam holy (or even unholy) matrimony. Karena nanti kalian (atau kami) akan pergi, dan kami (juga kalian) akan sendiri lagi. Sama seperti kita nanti mati.

            Gak munafik, perempuan suka dimanja. Tapi manja itu adjective yang eksklusif. Istimewa. Biasanya yang spesial gak akan diumbar dan dilakukan tiap saat. Thus, manjain cewek juga jangan sering-sering. Nanti hilang makna. Nanti hilang fungsi.

            So, boys. Daripada hanya ngingetin makan, kenapa gak ngingetin "Udah baca buku belum hari ini?", misalnya. Daripada hanya jadi ojek pribadi, mending ngajarin gimana cara nyetir motor. Atau mbeliin skalian. Ntar kan bisa sekalian ngojek juga! =P

            Kami tidak menampik bantuan, asal bantuan itu tidak melemahkan kami. Jadi… mau kan, kalian para lelaki, kerja bareng kami, perempuan-perempuan ini, untuk sama-sama belajar saling menguatkan?

 

THE GRAYS

Monday, April 4th, 2005

It’s 3 o’clock in the morning and we’re talking about God.
    "Jadilah hitam atau jadilah putih sekalian, tapi jangan abu-abu. Karena Tuhan benci abu-abu. Karena abu-abu sekutu setan," katanya.
    "Tapi abu-abu itu proses. Tergantung mo lo tambahin  warna hitam atau putih, dan hasil akhirnya bisa kelihatan nanti," jawab gwa.

            Gwa adalah si abu-abu yang bangga, yang menjumput 2 warna kontras itu dari sekeliling untuk belajar dan mencari arti sejati  hasil akhir. Sementara dia adalah abu-abu yang merasa lebih banyak menumpahkan warna gelap daripada terang. Bangga atau nggak, gwa gak tau. Dia percaya dosa turunan. Gwa percaya what goes around comes around.

            Lalu gwa pulang, bertemu teman-teman serumah yang menguasai bahasa langit. Yang memandang dunia dari balik kain sepanjang 6 meter dan menjulur dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Yang mencermati keadaan sekeliling dari celah segaris mata. Yang melafalkan 6666 kalimah suci luar kepala. Who keep the faith with no regret. Putihkah mereka?

            Kemudian gwa keluar, ke jalan. Bertemu kerak-kerak kota yang hanya bisa bersuara lantang namun kadang sumbang hanya demi sekeping uang. Yang kadang sama-sama lebur dalam ekstase bersahaja luar biasa dari lem murahan yang dibeli urunan. Yang hanya punya langit sebagai atap dan tanah tempat berpijak. Hitamkah mereka?

            Suatu hari ‘putih’ bercengkrama sesama ‘putih’ di kerajaan ‘damai’nya yang mungil setelah berlelah pulang dari ‘pencarian kebenaran’. ‘Hitam’ bertandang, membawa suara lantang, dengan gitar sumbang, berharap receh sekedarnya yang seringkali hanya cukup untuk beli permen 2 biji. ‘Putih’ enggan memberi. Bertentangan dengan ajaran langit, ujarnya. Dia gak tau, ‘kerajaan damai’nya disokong penuh oleh orang-orang yang melahirkan dia, dengan susah payah meskipun mampu, dengan harapan-harapan masa depan dunia yang muluk, nanti. Walau akhirnya puruk di tengah jalan. Sementara ‘hitam’ harus menyokong kerajaan kecilnya (yang entah damai atau rusuh) dengan bermodalkan apa yang ada, itupun hanya suara. Yang juga dengan susah payah karena bukan tergolong mampu. Dan harapannya hanya moga-moga ‘rakyat’nya bisa makan, nanti. Tapi itupun sering puruk.

            ’Putih’ memandang jijik pada para ‘hitam’ (dan juga mungkin ‘abu-abu’) yang memperlihatkan bagian-bagian tubuh yang mereka tutup rapat-rapat. Padahal itu kemerdekaan dan tanggung jawab pribadi. Sama merdeka dan pribadinya dengan kain yang mereka pakai. Yang jika dikenakan dengan sewajarnya, sisanya bisa berguna jadi selimut penahan dingin di tenda-tenda pengungsi korban bencana alam. Waktu yang mereka habiskan untuk perenungan-perenungan dalam akan makna kebenaran abadi mungkin lebih bermanfaat untuk mengajak anak-anak panti asuhan bermain dan belajar bersama. Dan harta yang mereka habiskan untuk membeli kitab-kitab surga mungkin lebih berfungsi untuk membeli buku bacaan dan buku pelajaran bagi bocah-bocah terlantar. Tapi, lagi-lagi, itu kemerdekaan mereka. Dan hak.

            Hitam, putih… abu-abu. Yang terakhir adalah inti. Yang lain hanya kulit. Karena kita cenderung melihat tampak luar dan menilainya, sementara dalam hati toh kita masih mencari, masih abu-abu. Dan itu adalah proses panjang tiada akhir sampai jatah kita di dunia sudah tergenapi. Dan si abu-abu satu ini hanya tertawa miris, saat tahu para ‘putih’ itu juga perlu sesuatu yang lebih essensial dari hanya sekedar kitab: beha!

            Langit menjauh. Bumi menjadi. Di hadapan para putih dan abu-abu, kami tersadar. Walau sebentar. Kami hanya mahluk fana.

[Thanx to sum1 who had made an opening for this article. U mean a lot, Bro! ]         

THE UNPREFERED

Friday, April 1st, 2005

Menurut penelitian mbak dan mas bule di Amrik sana,
orang-orang yang punya anatomi tubuh proporsional dan boleh dibilang ‘good-looking’
memiliki kesempatan lebih tinggi dalam berkarir dan memperoleh pekerjaan yang
mereka inginkan. Juga kehidupan sosial. Itu kata riset, lho. Bukan gwa yang
bilang.

    Tapi dilihat dalam kehidupan
sehari-hari juga memang begitu kan? Gak usah jauh-jauh, kita juga sering
ngalamin sendiri koq. Misalnya dalam hal menjaga dan mendapatkan pertemanan. Untuk
mereka yang sifatnya ‘never judging the book by its cover (and how I die trying
to be one!) mungkin ga bakal perduli dengan tetek-bengek penampilan. Tapi bagi
gwa sendiri, gwa cenderung untuk ngajak ngobrol orang yang tampangnya enak
dilihat. Mereka juga melakukan hal yang sama, lebih baik ngobrol dengan orang
yang lebih sedap dipandang mata daripada ama gwa and I’ll be the one who left
out standing alone. Haha.


    Thanks God, there is something
called internet! Dengan fasilitas chatting yang tersedia, gwa bisa jadi apapun
yang gwa mau. Gwa bisa jadi cewek manis dan manja, jadi pengikut setan, jadi
cowok kantoran yang supersibuk dan sukses, atau jadi anak SMU yang pengen bunuh
diri—tergantung nickname apa yang gwa pake. Tapi sebobrok dan sebejad apapun
(dan itu menurut penilaian orang, karena buat gwa, gwa baik-baik saja), gwa
lebih suka jadi diri sendiri. Meskipun gwa tau, gwa salah seorang yang ‘unprefered’
dalam hal tampang, omongan, dan prilaku. Dan Tuhan mencipta manusia dengan
sebagus-bagusnya bentuk.
   
     Gwa amat sangat menikmati saat gwa
lebur dalam jagad maya. Dalam kegendutan kedekilan, dan kejelekan gwa, gwa jadi
mahluk tak kasat mata yang hanya bisa dilihat dari nickname dan ketikan di
layar monitor mereka. Gwa seneng banget karena insom gwa dapat tempat penyaluran.
Saat-saat gwa lagi stuck garap gawean gwa bisa menghibur diri. Bahkan kalo gwa
lagi beruntung gwa bisa dapet masukan atau petuah bijak untuk ngadepin
kehidupan ‘off-line’ yang kadang-kadang gak ramah. Mereka, para ‘cyber-dweller’
itu, kadang gwa sebut sebagai ‘penghuni utopia’ dan menjadi teman sejati yang
ada saat gwa perlu teman. Utopia atau Purgatory, itu tergantung sudut pandang. Dan
gwa lebih memilih yang pertama.


    Tapi para mahluk invisible itu
kadang mengejewantah dalam bentuk yang terdiri dari daging, darah dan tulang
saat mereka mengundang gwa untuk ketemuan. Saat-saat seperti in sifat ‘unprefered’
gwa menemukan dirinya lagi. Gwa harus bisa me-replay pengalaman ‘left-out
standing alone’ untuk ngadepin mereka. Selama gwa kenal internet, hal itu udah gwa
alamin berkali-kali, entah udah yang keberapa puluh (kalo gak salah hitung). It
hurts, memang. Saat mereka ada ketika lu perlu dan tanpa harus tatap muka. Saat
hanya emosi negatif membandang dari elu dan dilawan dengan penguatan dan
soothing words dari dia. Saat lu jahil dan diterima dengan ikon =) penuh
pengertian. Dan semua itu jadi gak berarti saat lo mewujud jadi seonggok flesh,
blood and bone. Dalam sebagus-bagusnya bentuk yang Dia kasih sekalipun.

    People come, people go; but they
left their footprints on your sand. Good or bad, depends on how you classify
them. Yet, they were good most of the time. Karena gwa lebih memilih untuk
forgive and forget things that make me feel uneasy (say, like… school? LoL). Gwa
juga punya kehidupan nyata yang kata salah satu temen gwa adalah surga, dimana
gwa ga goyang hanya dengan masalah berat badan. Dimana gwa juga bisa menemukan
utopia-utopia lain selain dunia maya. Dimana gwa bisa share semua yang jadi
karat di otak dengan para onggokan daging, darah dan tulang yang punya wajah,
pribadi, keluarga dan latar belakang konkrit, bukan hanya sekedar ketikan di
layar monitor warnet.
   

    “Hanya orang-orang terbaik yang
bertelinga tebal dan berhati baja yang bisa deket ama elu,” kata mpok, ibu,
sekaligus teman gwa disini. I feel content. I’m already fulfilled. Dan gwa
bersyukur atas itu.      

 

[Missing a
nick that has already become my flesh, blood and bone for these past three
years. Where the hell art thou?!]