Officially Moving Out…
August 14th, 2005 by pitopoenyaKarena disana muntahnya lebih enak, maka dengan ini saya menyatakan resmi pindahan dari sini.
It was such a great time…
Karena disana muntahnya lebih enak, maka dengan ini saya menyatakan resmi pindahan dari sini.
It was such a great time…
Whatta day today! Setelah dinihari kemaren gwa berrepot-repot dengan sesuatu yang baru dan yang gwa kira sangat impossible untuk gwa lakukan, akhirnya bisa juga. Even more, it was beyond my expectation. In which I can’t achieve without the help of a far,far away friend It was the last thing ever crossed my mind, dengan peraturan-peraturan mempercantiknya yang njelimet–menurut gwa–dan gak user-friendly. Tapi nyatanya nggak. Mungkin gwa dulu trauma aja gara-gara traffic internet yang kenceng dan pas gwa baru daftar ga bisa langsung upload.
Berawal ketika seorang penasihat spiritual (blah!) itu dateng ke kos gwa dan nanya-nanya tentang bagaimana membuat sesuatu.
Akhirnya… dengan amat berat hati mungkin gwa bakal lebih sering ‘muntah-muntah’ disana–untuk gak menyebut curhat–karena ternyata lebih gampang settingnya daripada disini.
You can’t judge the things that you don’t ever know…
I’ve been thru many revolutions to become what I am now. The changing was dramatic, sometimes ridiculous and tragic. Yet, I enjoyed them so much.
There was a time when I wanted to have a pierce as a nut-vent kinda way, just want to feel how much sting of pain I could endure. I put an ice cube and felt the small part above my chin became numb, blocking all sensation, making it senseless. I stuck a candle-burned, alcohol-dipped needle at the right spot, thrust it deeper and deeper with the strength I had left for nervousness had been sucking out my power. Adrenaline pumped fast and my heart was pounding. The face in the mirror before me showed no doubt. The eyes said "Do it. Feel it." My hands shivered because of the excitement and self-justification. It seemed right. It felt right. When the flesh had been penetrated and my gum felt the sharp point, I bent the needle upward as hard as I could and making it blunt with nail filer.
The effect was superb. I was mighty! I’ve been in this much agony, I could take some more. It’s not that I’m insane or anything, but I love that blinding ache. It made me strong, unbeatable. Even more, I love the healing process. I can feel the tiny, cold steel against my inner lip, preventing the flesh to close the wound and made a cute little hole two weeks after.
Self-tortured-attention-seeker, am I? Nah. Cuma ngetes nyali. Gwa paling takut sakit, dan saat itu sangat tepat untuk merasakannya. Dan gwa ngerasainnya lagi kemarin. Dua jam penuh gwa dan si cantik-pintar-lugu-tapi-galak berjuang untuk mendapatkan hasil yang gwa inginkan dengan media rambut di kepala yang sudah menggondrong. Berbekal gunting, pencukur kumis dan cermin kami mulai ritual itu.
Bagaimana setelah semuanya selesai? Katanya gwa jadi mirip hantu. Kata yang lain, gwa hilang feminin sama sekali. Komentar partner kerja gwa sendiri: mirip The Last of The Mohican! Padahal masih lebih manis gwa la daripada si Unca!
Hahaha!!! Gwa adalah skinhead yang menyamar dibalik gondrong seleher yang terurai!
(Apaan sih?! KRISPI!!!)
He asked me to join a community gathering near his town. It’s kinda blog-brotherhood. Gwa sama sekali gak tertarik. Ummm… hehehe… boong denk =P Sebenernya tertarik juga sih denger tempatnya, Surabaya. Banyak temen dan sahabat disana yang mulai jarang kontak, apalagi ketemu. Tapi mengingat kepentingannya ketemu temen-temen sesama blogger bikin gwa enggan.
Kenapa sih? Sok eksklusif? Gak mau kenal yang laen? Sok anti-tren? Padahal elu bikin blog juga (sok) ikut tren kan? *Plak! Dezigh! Jdugh! Ctar!!! Ctarrrrr!!!* (Babak belur di pojokan sambil jongkog megangin kepala gaya maling ayam ketangkep massa) Nggak… Sama sekali bukan itu alasannya. Kebalikannya. Pertama, gwa hanya nge-blog di FS yang gak njelimet tapi cukup representatif untuk kepentingan gwa. Lha wong cuma mindahin karat otak aja buat apa sih bagus-bagus? Lagian gwa ga telaten kutak-katik.
Kedua, minder! Iya, sumpah! Gwa minder berat dengan para pemilik blog yang alamatnya pakek .blogdrive atau .blogspot (ini gwa nge-link asal comot dari om gugel). Yang gambarnya keren-keren, ada shoutbox, jam dan gravatarnya segala Apalagi yang pakek site sendiri. Perlu banyak waktu dan tenaga dan pikiran untuk miaranya. Gwa acungin semua jempol deh buat mereka yang emang punya energi ekstra untuk bikinnya! (=
Ketiga, ga ada satupun yang gwa kenal disana–offline maupun online–kecuali temen gwa itu. Bukan masalah susah mingling. Bahkan saking gampangnya gwa beradaptasi, kadang suka bablas kalo mood lagi bagus, dan baut di mulut gwa sering longgar kalo lagi seneng. Dengan kata lain: ngomongnya sering ga pake otak dan rasa! Makanya daripada bikin orang sakit hati gara-gara ucapan dan celetukan gwa dan nambahin dosa yang udah bertumpuk, mendingan ga usah aja lah.
Keempat, gwa ga bisa terikat, sama individu maupun sama organisasi. Profit atau non-profit (apaan sih?!). Gwa lebih seneng jadi pengamat, ga pakek komitmen. Bisa nyonthong sekenanya dan gak ada beban tanggungjawab prinsip dan moral karena membawa panji-panji pihak tertentu. Seperti ketika dulu LMND kampanye di kampus dan gwa dideketin karena dianggap punya massa banyak dan bersuara lumayan vokal. Padahal gwa seringnya cuma jadi ‘laler’: nemplok sana-sini kalo ada kumpul-kumpul dimana aja, beda fakultas sekalipun, kenal-ga kenal, mau-ga mau dan dengan hati enggan mereka (akhirnya) terpaksa kenal gwa. Xixixi…
Tapi mungkin nanti gwa berubah pikiran. Siapa tau? Manusia kan ga bisa stagnan di satu titik selamanya tanpa bergerak. Kalo gitu sih mending mati aja luh!
ps: sorry, link-nya kebanyakan dari wikipedia =P
Gwa ga nganggap janji orang ke gwa itu penting. Lo mau sumpah demi setan di neraka atau Tuhan di surga pun gwa ga bakal ambil pusing. Ga ada pentingnya. Tapi dari situ gwa bisa liat lo berharga atau nggak untuk gwa temenin.
Tapi janji gwa ke orang? Sebisa mungkin gwa bakal tepatin. Dengan mempertaruhkan apa yang gwa punya sekalipun, asal bukan harga diri dan prinsip. Yang pasti gwa ga bakal bikin janji yang mempertaruhkan dua hal itu.
Gimana? Lo bilang gwa ekstrim? Nggak ah. Gwa realistis. Atau preventif. Berkali-kali gwa sebel hanya gara-gara janji surga. Sebel itu lama-lama bisa bikin kebal, lho. Bener deh. Makanya banyak yang bilang gwa ‘atos’, keras kepala kalo udah kesel. Suit yourself.
Gwa pernah merasa sedih dan sakit karena ‘broken promises’. Tapi toh, seperti prinsip yang gwa pegang sampai saat ini, gwa butuh sakit itu. Gwa banyak belajar dari sakit. Karena ada hikmah di baliknya: belajar sabar. Sama seperti beberapa bulan lalu. Seorang teman berjanji untuk datang jauh-jauh dari luar kota. Sengaja gwa mempersingkat kunjungan gwa ke Kota Kembang demi beliau. Ternyata, udah ditungguin ampe 2 hari, dengan menunda semua acara yang ada di agenda gwa, dia tetep ga ada kabar. Ya sutra la. Life goes on. Lo ga dateng juga gwa ga mati.
Dia sempet telfon, beberapa waktu kemudian, dan gwa tanggapin dengan dingin. Lalu dia bikin janji lagi untuk minggu besoknya. Dan dilanggar lagi. Begitu juga kemarin. Dan gwa juga gak nungguin. Gwa tetep jalan-jalan, tidur, nyuci baju, ngerjain bahan duit, de el el. Kalopun dia dateng dan gwa sedang beraktifitas, gwa tinggal bilang. Nothing to lose.
Waktu itu juga si abang pernah janji mau ke kos gwa pagi-pagi. Karena lama ga ketemu, gwa nunggu dengan amat antusias. Tapi pagi berganti siang, siang berganti sore, sampe malem. Jam sembilan dia baru dateng. Dan menunggu adalah sesuatu yang bikin gwa mati rasa. Selama kenal dia beberapa tahun selalu begitu. Tapi kenapa masih ditemenin? Karena ngaret dan promise-breaker itu hanya nila setitik yang gak sampe merusak susu sebelanga kualitas lain yang dia miliki.
Tapi ya udah la. Kan gwa udah bilang, lo mau ga nepatin janji juga gwa ga mati koq =P
Gwa kenal dia lumayan lama, meskipun ga pernah ketemu muka. Jadi, dulu tu ‘abang’ gwa punya abang, abangnya punya pacar, dan pacarnya itu mantan pacar dia. Bingung kan? Pokoknya kalo lo ntar ketemu gwa dan nanya gimana-gimananya, gwa jelasin deh! Dan ga bakalan sebingung kalo baca.
Si Mbak–yang sekarang menikah dengan orang lain yang sama sekali bukan abangnya ‘abang’ gwa–promosi gila-gilaan tentang mantannya itu. Dia adalah lelaki yang dicintainya setengah mampus tanpa bisa dimiliki. Gentleman sejati, dengan otak pintar, penghasilan lumayan–walaupun ga jelas kerja dimana–dan kemampuan bicara yang amat sangat lihai dan bakal bikin pendengarnya terbuai. Benarkah?
In a way, ada benernya walopun gwa cuma chatting di internet. Bertahun-tahun ketemu maya, dia adalah lawan tangguh untuk ngomongin masalah politik dan kehidupan. Ada hal-hal personal yang berusaha dia bagi ke gwa, tentang kesendirian, pencarian, dan semacamnya. Dia juga pernah kasih gwa harapan akan adanya seseorang yang bisa mengerti dan memahami gwa. Lelaki yang bisa bicara pada perempuan tanpa menyinggung subject yang gak suka gwa omongin: sex.
Dan gwa ketemu dia belum lama ini, lagi-lagi di dunia maya. Dengan (sok) penuh perhatian dia nanya hal-hal remeh tapi penting untuk memikat cewek biar nyangkanya dia itu pengertian. Gwa udah kebal, man! Ga ngaruh. Karena gwa udah pernah sebel ama sesuatu yang menurut dia remeh tapi bagi gwa amat sangat prinsip.
Dengan kata-kata yang menunjukkan penghargaan atas basa-basi-busuknya itu, gwa bilang kalo gwa ga bisa chatting karena kesibukan baru. Akhirnya dia merelakan gwa bersibuk-sibuk dengan urusan gwa dan dia dengan album fotonya.
Karena iseng, gwa masuk ke channel pribadinya dan langsung ditendang tanpa ampun sama channel service. Sekilas terpampang alamat yahoo photos dan beberapa alamat lain sebagai topik. Dan karena iseng juga maka gwa cek satu-satu itu alamat. Astaga… ternyata isinya adalah gambar-gambar yang… ah, sudahlah. Yang pasti gwa kecewa karena penilaian gwa selama ini, tentang dia sebagai ‘lelaki baik-baik’ itu salah semua.
Gwa gak nyalahin, sih. Hanya gumun. Koq bisa ya dia… semunafik itu? Duh, pemilihan kata yang terlalu kasar, mungkin. Tapi gwa ga tau lagi padanan kata yang tepat untuk menyebutnya.
Hey.. this is cyber-world. Virtual reality–yang gwa ga tau maksud sebenernya apa–dan semua hal hanya sebatas persepsi mata. Kalo sampe mendalam dan diambil hati, itu masalah lo, bukan masalah gwa. Gitu kali yax?
Kata orang standar kecantikan berubah tiap zaman. Kalo sekarang mungkin yang ngetren itu putih, tinggi, langsing dengan rambut bonding sepunggung. Standar setan. Tinggal tambahin gaun putih dan jalan-jalanlah malem Jumat di jalanan sepi, maka pasti orang bakal mengira dia kuntilanak. Gak tau dua puluh ke depan nanti standarnya bakal kayak gimana lagi.
Liad deh lukisan-lukisan jaman jebot. Dalam kurun waktu yang berbeda ada banyak macam ragam kecantikan. Yang bohay-bohay, dengan perut njembling dan dada ‘bersangu banyak’ dianggap cantik. Terus ada Mona Lisa-nya Da Vinci yang gak punya alis dan tersenyum nanggung juga dianggap cantik. Terus di Jepang juga. Geisha yang dianggap paling cantik adalah yang berpupur putih tebal, walaupun itu hal kedua setelah melirik skill yang mereka miliki.
Gilanya ada tradisi bebat kaki di Cina yang bikin telapak sampe jari-jari mereka deformed hanya untuk terlihat ‘berjalan anggun seperti meluncur’. Demi konsumsi laki-laki. Atau di Afrika. Perempuan akil baligh harus mengalami ‘operasi kecil’ dengan menjahit liang luar vagina dan membiarkan sedikit lubang tersisa untuk jalan darah haid. Ketika mereka menikah, jahitan itu dilepas. Saat suaminya meninggal, dia harus dijahit lagi untuk tidak ‘bermain api’. Juga ada tradisi sirkumsisi vagina luar. Sama halnya dengan sunat lelaki, hanya saja untuk perempuan Afrika suku tertentu ini yang disunat adalah seluruh labia mayora mereka. Ugh! Ngetiknya aja bikin ngilu!
Waktu gwa ga sengaja liat acara dokumenter di tivi siang-siang, ada sekumpulan perempuan (lagi-lagi dari Afrika) dengan bibir bawah melebar sebesar tatakan cangkir. Itu tanda kecantikan, katanya. Semakin besar lubang itu, semakin cantik kamu. Dengan mengorbankan susunan anatomi wajah dan jeroan mulut sekalipun.
Tapi kayaknya zaman sekarang juga sama. Liat aja baju yang dijual di butik khusus perempuan. Semuanya kecil-kecil, lucu-lucu, imud-imud dan seksi-seksi. Semuanya khusus buat para perempuan berbodi Twiggy yang pengen tampil modis dan (secara tidak langsung dibilang) cantik. Untuk mendapatkannya mereka rela berlapar-lapar dan menghabiskan berjam-jam di gym untuk bikin pantat sintal, buah dada kenyal dan pinggul padat. Kalo alasannya hanya untuk bugar sih gwa bisa terima la. Tapi kalo hanya untuk ngurusin badan atau keliatan seksi? Buat siapa sih? Buat laki-laki kan?!
Mungkin gwa jahat (atau sirik? =P) kalo bilang begitu. Gwa yakin masih banyak perempuan yang tampil cantik karena kenyamanan mereka sendiri. Tapi berapa persen sih yang bisa begitu dibandingin orang se-Indonesia?
Buat gwa pribadi ga masalah orang menilai gwa ga cantik. Gwa punya kecantikan gwa sendiri. Lagian gwa hanya ingin dinilai dengan isi, bukan kulit. Kalo bisa malah hanya diterima tanpa penilaian, karena gwa berusaha keras untuk tidak menilai. Lagian hidup ini cuma sebentar. Gwa pengen nikmatin hidup dan bukan tersiksa in the process of living…
Gaming, sleeping, eating. Gaming, sleeping, eating. Tiap hari cuma itu. Bosen ga sih? Keliatannya sih nggak. Tapi dari mukanya yang lesu gwa tau dia super bosen. Hanya tiap dia di depan monitor dan ber-quest dengan atau tanpa guild-nya, mukanya langsung berubah. Duhai, gamenet. Kamu hanya katup pelepas sementara, sama seperti alkohol dan rokok dan ganja dan drugs.
Karena mendengar berita yang gak mengenakkan tentang dia dan pekerjaannya gwa hengkang ke Semarang berbekal duit seadanya. Setelah hampir 4 bulan ga ketemu dia memang ga banyak berubah, hanya sedikit lebih gondrong. Gwa prihatin. Amburadulnya emang udah parah, stadium final, ga bisa diganggu gugat. Dengan kebawelan gwa sekalipun.
Ah, dia. Orang yang lebih dekat dari sekedar pacar selama empat tahun terahir ini. Yang kesabaran, kekonyolan, kesantaian dan kesederhanaannya sama seperti Babab. Yang ngenalin gwa ke Helloween, Gorky Park dan teman-temannya, bermimpi untuk bisa nonton konser Dream Theater bareng secara live. Yang dengan kegigihan luarbiasa nerangin gimana cara kerja proxy. Dalam waktu yang sama bisa menjadi kakak, sahabat, penasihat dan motivator… tapi tetap gak terjangkau.
Dia pintar dalam bidangnya meskipun itu ga ada sangkut pautnya dengan kuliah yang dia jalani selama ini. Dia bisa raih peluang sebesar-besarnya untuk jadi maju. Tapi dia ga mau. Selalu minder, selalu bilang ga bisa, selalu malu dan pendiam. Mau gwa ngomong ampe berbusa pun dia gak goyang. Padahal dia sering sambat kalo temennya udah pada jadi ini dan itu. Sayang, tatarannya hanya sampai di sambat, gak di follow up lagi.
Berapa lama ‘a moment’ itu, Sayang? Sebulan? Dua bulan? Seumur hidup? Selamanya? Kapan kamu bangkit, berdiri dan bertindak dan memandang dunia dengan sikap optimis? Jangan hanya kamu terapkan ke aku. Kamu pun punya hidup yang harus diperjuangkan, bukan hanya aku!
… karena hidup segera berakhir sebelum kamu menyadarinya…
[Ayo, Ling... kapan bergerak?]
Ngerti wagu? Wagu itu, menurut pendapat gwa: aneh yang konyol dan super garing. Sama garingnya dengan orang yang tau-tau dateng entah darimana dengan tampang sok gak bersalah dan melakukan hal yang biasa dia lakukan setelah beberapa bulan sebelumnya dia jutek dan nesu-nesu ga karuan dalam diam. Tanpa ada penjelasan apapun diantara dua peristiwa itu.
Sebenernya sih gak papa. Ini lagi dalam tahap recovery aja makanya jadi apa-apa. Kalo dibiarin mungkin nanti anteng lagi. Kemaren juga udah cekikikan berdua. Meskipun masih ada sedikit keterpaksaan di pihak gwa. Dan kami sama-sama tau hal itu.
Sewagu apapun, dia masih orang terpenting gwa. Dan gwa ga bisa dan ga mungkin ingkar. Dia masih sahabat, kakak, ibu sekaligus lawan yang tangguh. Apalagi kalo kita ngadu jalan pakek kaki. Gwa masih punya dia pada tahap kehidupan ini. Entah nanti. Carpe diem. Seize the day. Gather ye rose while ye still around, kata Om La Brie (Dream Theater, Change of Season I), dengan gebukan drum Om Portnoy, cabikan bass Om Myung, petikan njelimet punya Om Petrucci dan pejetan tuts maut dari The Wizard, Rudess.
Seperti halnya sekarang, telinga gwa dihantam dentuman keras musik mereka, begitu juga situasi ini. Nikmatin aje kali yeee… ((=
Kekecewaan itu pahit ya. Apalagi yang berulang. Dan ga tau kenapa koq gwa ga kapok ya? Stupid question.
Jadi inget lagu "Buses and Trains". I go under a bus/Got hit by a train/Keep falling in love/Which is kinda the same/Got some kinda used/Crushed by car, gone insane/But it felt so good/I wanna doing it again…
It’s like cigarette. Like chocolate. I know they’re bad for me but I just can’t get enough….
Tolol. Sama seperti Itchy yang ga suka gatal tetapi selalu menggosok-gosok tubuhnya pada jelatang karena dia suka menggaruk. Juga Bumpy yang suka mukul kepalanya sendiri pake palu karena dia suka rasa lega yang dia dapet ketika dia berenti nggetok. Mbulet.
It’s ok to be dissapointed, actually. It’s a good middle name, though. Haha. Gimana nyikapinnya itu yang penting. Gwa sih datar aja. Cukup dilampiaskan dengan tidur, walaupun hasilnya jadi gloomy sepanjang hari. Dan itu berimbas pada semua hal dan orang-orang yang gwa adepin. Menyebalkan. Apalagi kalo orang itu ga ada sangkut-pautnya ama kekecewaan gwa. Tambah menyebalkan!
Tapi udahlah. Gwa udah lumayan bisa antisipasi koq. It takes time, memang. Yet i could manage it. Dah bisa ketawa-ketiwi lagi. Dah bisa nyengir lagi. Apalagi kalo kuping gwa disumpel MP3 dengan volume pol. Don’t care what you said lah. I hear what I wanna hear…